Pusat Data Nasional (PDN) yang dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengalami insiden serangan siber terhitung sejak 20 Juni 2024. Serangan tersebut dilancarkan menggunakan Brain Cipher Ransomware, yang mengakibatkan gangguan operasional pada berbagai infrastruktur dan sistem pelayanan publik di Indonesia.
Salah satu sektor yang terdampak langsung dan menjadi sorotan utama adalah layanan keimigrasian di bandara udara. Akibat gangguan pada sistem digital imigrasi, para petugas terpaksa melakukan proses pemeriksaan perlintasan secara manual meskipun memerlukan waktu yang relatif lebih lama. Sistem digital keimigrasian baru mulai berangsur pulih setelah empat hari berselang sejak hari kejadian. Selain keimigrasian, efek domino serangan siber pada PDN ini meluas ke puluhan instansi dan lembaga negara, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hingga Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Gangguan pada sistem PDN juga berdampak pada sektor layanan konstruksi nasional. Penguncian Sistem Informasi Jasa Konstruksi Terintegrasi (SIJKT) menyebabkan 1.479 permohonan perizinan usaha dan 12.332 permohonan sertifikasi tenaga kerja konstruksi terhenti dalam kurun waktu 10 hari. Selain itu, Andi Rukman menyebutkan bahwa aplikasi e-simpan yang merupakan bagian dari SIJKT ikut terkunci oleh ransomware, padahal aplikasi tersebut mencatat data pengalaman dari 10.527 badan usaha konstruksi dan 98.320 tenaga kerja konstruksi profesional.
Komdigi Desak WhatsApp Jelaskan Penyebab Akun Terblokir, Senin Harus Dijawab

Mengenai langkah penanganan dan pencegahan kerugian akibat peretasan, Alfons Tanujaya dari Aptiknas menjelaskan bahwa satu-satunya cara yang paling efektif untuk menekan kerugian dari ransomware adalah disiplin melakukan pencadangan data. Alfons menegaskan bahwa salinan cadangan data tersebut harus ditempatkan secara terpisah atau offline agar tidak ikut terenkripsi ketika sistem utama diserang ransomware.
Ancaman kejahatan siber berbasis ransomware ini juga telah dihadapi oleh berbagai institusi global dengan dinamika penanganan yang beragam. Pada Februari 2024, peretas membobol perusahaan perangkat lunak RSC yang berbasis di Bucharest dan menyusupkan ransomware BackMyData ke sistem medis Hippocrates di Rumania. Penyelidik siber menemukan sebanyak 26 rumah sakit terinfeksi, yang kemudian memicu instruksi kepada lebih dari 100 rumah sakit di Rumania untuk memutuskan koneksi dari internet. Dalam peristiwa tersebut, pemerintah Rumania memutuskan untuk menolak membayar tuntutan tebusan peretas sebesar 160.000 bitcoin.
Langkah Kementerian Komdigi dalam Pemutusan Akses Rekening Terkait Transaksi Ilegal dan Hasil Penindakannya

Di negara lain, dampak serangan siber bahkan berujung fatal dan menuntut pengeluaran biaya yang sangat besar. Di Inggris, Layanan Kesehatan UK (NHS) mengonfirmasi bahwa serangan siber terhadap sebuah perusahaan tes darah yang memengaruhi sejumlah pusat medis di London turut berkontribusi pada kematian seorang pasien. Sementara itu di Amerika Serikat, Change Healthcare mengalami peretasan yang memicu gangguan luas, hingga akhirnya perusahaan tersebut memutuskan untuk membayar tebusan sebesar 22 juta dolar AS kepada para peretas.






