berputar.id
BerandaNewsHukumEkonomiNasionalInternasionalKeuanganBerita LokalBisnisOlahragaTeknologiPolitikBantuan SosialPopuler
Beranda/Ekonomi

BPS Luruskan Salah Kaprah Desil DTSEN, Pemeringkatan Relatif Kesejahteraan, Bukan Ukuran Mutlak Kemiskinan

Fitri KaraengDiterbitkan 23 Agu 2026 - 05.26 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
BPS Luruskan Salah Kaprah Desil DTSEN, Pemeringkatan Relatif Kesejahteraan, Bukan Ukuran Mutlak Kemiskinan
Foto/Ilustrasi: ekonomi.republika.co.id.
A-A+

Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi memberikan penjelasan mendalam guna meluruskan kesalahpahaman yang berkembang di tengah publik terkait pemaknaan angka desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Selama ini, sebagian kalangan masyarakat menganggap bahwa angka desil merupakan cerminan mutlak dari besaran pendapatan, jumlah kekayaan, ataupun garis kemiskinan formal sebuah keluarga. BPS menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat karena penetapan desil pada dasarnya merupakan instrumen pemeringkatan relatif yang disusun berdasarkan beragam karakteristik sosial dan ekonomi masyarakat.

Penegasan ini sangat penting agar masyarakat dan para pemangku kepentingan memahami hakikat dari data yang dikelola dalam DTSEN. Dalam kerangka kerja statistik nasional, desil bukanlah tolok ukur absolut yang mengkategorikan seseorang miskin atau kaya semata-mata dari nominal uang tunai yang dimiliki. Sebaliknya, angka desil adalah cerminan dari urutan tingkat kesejahteraan suatu keluarga ketika diperbandingkan secara komparatif dengan seluruh keluarga lain di seluruh Indonesia berdasarkan sekumpulan variabel yang telah diukur secara komprehensif.

Melalui klarifikasi ini, BPS berharap tidak ada lagi simplifikasi yang mengartikan desil sebagai vonis tunggal mengenai kemampuan ekonomi keluarga. Sistem pemeringkatan dalam DTSEN dirancang untuk memberikan gambaran yang lebih utuh, adil, dan terstruktur mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat, sehingga kebijakan yang berbasis data ini dapat diimplementasikan sesuai dengan tujuan dan metodologi yang mendasarinya.

Penjelasan Kepala BPS Mengenai Posisi Relatif Pemeringkatan Kesejahteraan

Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan secara langsung mengenai esensi dari angka desil tersebut. Beliau menyampaikan bahwa angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga. Penjelasan ini menekankan bahwa desil bukanlah angka tunggal yang berdiri sendiri untuk mengukur kekayaan atau kemiskinan, melainkan suatu urutan posisi komparatif dalam tatanan kesejahteraan nasional.

Di dalam sistem DTSEN, seluruh keluarga dikelompokkan ke dalam 10 desil berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif masing-masing. Pengelompokan ini membagi populasi keluarga ke dalam sepuluh tingkatan bertingkat, di mana Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan Desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi. Pembagian ini memperlihatkan kontinum kesejahteraan dari kelompok masyarakat yang paling rentan hingga kelompok masyarakat yang paling sejahtera.

Dengan sistem pembagian sepuluh tingkat ini, kedudukan sebuah keluarga pada tingkatan tertentu selalu bergantung pada posisinya terhadap keluarga-keluarga lain di Indonesia. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan pentingnya melihat desil dalam perspektif pemeringkatan ini, agar publik memahami bahwa perubahan posisi atau penempatan dalam desil mencerminkan evaluasi menyeluruh atas berbagai faktor yang melingkupi kehidupan keluarga bersangkutan dalam kaitannya dengan populasi nasional secara keseluruhan.

Metodologi Proxy Means Test dan Karakteristik Penentu Desil

Penentuan posisi sebuah keluarga ke dalam desil 1 hingga desil 10 di dalam DTSEN dilakukan melalui perhitungan ilmiah yang ketat. Berbagai karakteristik sosial dan ekonomi keluarga dihitung secara bersama-sama menggunakan metode Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatif keluarga tersebut. Pendekatan PMT digunakan agar estimasi tingkat kesejahteraan tidak hanya bergantung pada pelaporan nominal pendapatan yang sering kali sulit dipastikan keseragamannya, melainkan diukur melalui serangkaian indikator proksi yang mencerminkan taraf hidup nyata suatu rumah tangga.

Dalam proses penghitungan menggunakan metode Proxy Means Test tersebut, pemeringkatan mempertimbangkan sepuluh karakteristik sosial ekonomi utama secara terintegrasi. Karakteristik pertama adalah kondisi perumahan, yang mencakup aspek fisik tempat tinggal yang ditempati keluarga. Karakteristik kedua berkaitan dengan sumber air minum yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karakteristik ketiga mencakup jenis energi yang digunakan untuk memasak, sedangkan karakteristik keempat meninjau kepemilikan aset rumah tangga.

Selain empat aspek fisik dan sarana tersebut, karakteristik kelima yang dinilai adalah fasilitas serta pemanfaatan listrik di tempat tinggal keluarga. Karakteristik keenam mencakup komposisi keluarga, yang melihat struktur dan jumlah anggota dalam satu rumah tangga. Karakteristik ketujuh meninjau tingkat pendidikan dari para anggota keluarga. Karakteristik kedelapan mencakup jenis serta status pekerjaan yang dijalani. Karakteristik kesembilan meneliti kondisi kesehatan para anggota keluarga, dan karakteristik kesepuluh mempertimbangkan ada atau tidaknya disabilitas di dalam keluarga tersebut.

Kesepuluh karakteristik sosial ekonomi tersebut鈥攜aitu kondisi perumahan, sumber air minum, energi untuk memasak, kepemilikan aset, listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan disabilitas鈥攖idak dinilai secara terpisah-pisah, melainkan diolah secara serentak melalui metode Proxy Means Test. Hasil kalkulasi menyeluruh inilah yang kemudian menghasilkan perkiraan posisi kesejahteraan relatif keluarga dalam struktur desil nasional.

Baca Juga

Aturan Tumpang Tindih dan Dugaan Monopoli, Bisnis Ekspedisi Minta Integrasi Kebijakan ke Pemerintah

Aturan Tumpang Tindih dan Dugaan Monopoli, Bisnis Ekspedisi Minta Integrasi Kebijakan ke Pemerintah

Mengapa Kondisi Keluarga dalam Desil yang Sama Tidak Selalu Identik

Salah satu pokok permasalahan yang sering menimbulkan kebingungan di masyarakat adalah adanya perbedaan kondisi nyata antara keluarga-keluarga yang berada dalam satu kelompok desil yang sama. Menjawab persoalan ini, BPS menjelaskan bahwa keluarga dalam desil yang sama tidak selalu memiliki pendapatan, pengeluaran, atau kondisi sosial ekonomi yang sama persis. Hal ini terjadi karena desil merupakan hasil gabungan dari beragam variabel yang saling melengkapi dalam formula Proxy Means Test.

Sebagai contoh, dua keluarga yang berada di desil yang sama dapat memiliki konfigurasi karakteristik yang sangat berlainan. Sebuah keluarga mungkin memiliki kondisi perumahan yang sederhana namun memiliki anggota keluarga dengan tingkat pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik. Sementara itu, keluarga lainnya mungkin menempati rumah dengan kondisi fisik yang tampak lebih baik, tetapi di sisi lain memiliki tanggungan kesehatan, disabilitas, atau komposisi keluarga yang lebih rentan. Melalui kalkulasi PMT, kombinasi skor dari variabel-variabel tersebut dapat menempatkan kedua keluarga pada desil kesejahteraan relatif yang serupa.

Oleh karena itu, BPS menegaskan bahwa kesamaan angka desil tidak berarti bahwa setiap keluarga memiliki besaran rupiah pendapatan atau pengeluaran bulanan yang identik. Desil adalah wadah pengelompokan tingkat kesejahteraan relatif yang menampung variasi profil sosial ekonomi masyarakat, asalkan estimasi skor gabungan dari seluruh karakteristik yang diuji berada pada rentang tingkatan yang sama.

Sifat Dinamis Pemeringkatan Desil dan Perubahan Status Keluarga

Selain tidak menunjukkan keseragaman mutlak dalam hal nominal pendapatan, status desil suatu keluarga juga tidak bersifat permanen atau terkunci selamanya. BPS menekankan bahwa posisi desil bisa berubah seiring perubahan kondisi keluarga dan posisi relatifnya terhadap keluarga lain di seluruh Indonesia. Dinamika ini menegaskan bahwa pemeringkatan kesejahteraan dalam DTSEN merupakan potret yang bergerak mengikuti realitas kehidupan masyarakat.

Perubahan posisi desil dapat terjadi karena dua faktor yang saling berkaitan. Faktor pertama adalah perubahan kondisi internal di dalam keluarga itu sendiri. Perubahan ini dapat berupa perbaikan tingkat pendidikan anggota keluarga, perubahan jenis pekerjaan, perubahan kepemilikan aset, perbaikan kondisi perumahan, perubahan sumber energi dan air minum, maupun perubahan pada komposisi keluarga, kondisi kesehatan, serta disabilitas. Apabila indikator-indikator tersebut membaik atau mengalami penurunan, skor yang dihasilkan dari perhitungan Proxy Means Test juga akan mengalami pergeseran.

Faktor kedua adalah pergeseran posisi relatif terhadap keluarga lain dalam skala nasional. Karena desil membagi seluruh populasi ke dalam sepuluh tingkatan proporsional, peningkatan atau penurunan kondisi kesejahteraan keluarga-keluarga lain di tingkat nasional secara otomatis dapat memengaruhi urutan dan batas ambang desil. Dengan demikian, status desil sebuah keluarga sangat bergantung pada bagaimana kondisi keluarga tersebut berkembang dibandingkan dengan perkembangan jutaan keluarga lainnya di Indonesia.

Cakupan Data DTSEN Versi 3 dan Skala Pendataan Nasional

Untuk menyusun pemeringkatan desil yang komprehensif dan akurat di tingkat nasional, pemerintah melalui BPS membangun dan mengelola basis data berskala sangat besar. Berdasarkan data per 10 Juli 2026, DTSEN Versi 3 telah mencakup sebanyak 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga di seluruh penjuru Tanah Air. Skala cakupan ini menunjukkan bahwa basis data DTSEN mencakup hampir seluruh lapisan penduduk Indonesia secara terperinci.

Pengelolaan data sebanyak 290,13 juta individu dan 95,98 juta keluarga tersebut memerlukan standarisasi yang ketat dalam penerapan metodologi Proxy Means Test. Melalui DTSEN Versi 3, setiap individu dan keluarga tercatat dengan profil karakteristik sosial ekonomi yang lengkap, mulai dari aspek hunian, akses utilitas dasar, hingga latar belakang demografi dan kesehatan. Hal ini memungkinkan sistem statistik menghasilkan pemeringkatan desil yang terstruktur secara nasional dari Desil 1 hingga Desil 10.

Cakupan data yang sangat luas ini menjadi fondasi utama bagi pemerintah dalam mengidentifikasi profil kesejahteraan masyarakat secara terpadu. Dengan adanya DTSEN Versi 3, pemetaan kondisi sosial ekonomi tidak lagi terfragmentasi, melainkan terpusat dalam satu basis data tunggal yang memuat informasi individu dan keluarga secara utuh per 10 Juli 2026.

Mekanisme Pemutakhiran Data DTSEN Melalui Berbagai Sumber

Mengingat kondisi sosial ekonomi keluarga bersifat dinamis dan data mencakup ratusan juta entri, BPS memastikan data DTSEN terus dimutakhirkan secara berkesinambungan lewat berbagai sumber. Pemutakhiran data secara berkelanjutan ini menjadi kunci utama agar basis data DTSEN tetap mutakhir, akurat, dan mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya dari waktu ke waktu.

Baca Juga

Bandara Husein Dibuka Kembali, KCIC Yakin Whoosh Tetap Diminati

Bandara Husein Dibuka Kembali, KCIC Yakin Whoosh Tetap Diminati

Proses pemutakhiran data DTSEN dilaksanakan melalui lima saluran utama yang saling terintegrasi. Pertama, pemutakhiran dilakukan melalui pemanfaatan data administrasi kependudukan dan sektoral yang tersedia di berbagai instansi. Kedua, pemutakhiran dilakukan melalui integrasi hasil sensus dan survei berkala yang diselenggarakan secara resmi oleh BPS. Melalui jalur ini, dinamika perubahan data dapat diverifikasi secara metodologis.

Saluran pemutakhiran ketiga berasal dari proses pemutakhiran yang dilakukan oleh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. Keterlibatan kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah di seluruh wilayah Indonesia memungkinkan pencatatan perubahan kondisi sosial ekonomi warga secara langsung dari tingkat daerah. Keempat, BPS menjalankan mekanisme pengecekan lapangan untuk memverifikasi kesesuaian data dengan kondisi fisik dan sosial ekonomi keluarga yang sebenarnya.

Saluran kelima dalam pemutakhiran data DTSEN adalah penerimaan masukan masyarakat. Saluran partisipatif ini memberikan kesempatan bagi warga untuk menyampaikan masukan dan tanggapan apabila terdapat perubahan data, ketidaksesuaian data, atau pergeseran kondisi keluarga. Seluruh pemutakhiran dari data administrasi, sensus dan survei, pemutakhiran kementerian/lembaga dan pemda, pengecekan lapangan, serta masukan masyarakat ini kemudian diproses kembali melalui metode Proxy Means Test untuk memperbarui pemeringkatan desil secara berkala.

Penegasan Rentang Desil dan Rencana Pembatasan Pembelian Pertalite

Penetapan struktur desil dalam DTSEN memiliki kaitan erat dengan perumusan dan evaluasi berbagai program strategis pemerintah. Mengenai struktur pengelompokan ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya juga menegaskan bahwa pengelompokan desil tetap berada pada rentang 1 hingga 10. Penegasan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto tersebut memastikan bahwa tidak ada pembagian di luar skala sepuluh tingkatan tersebut, di mana desil 1 menjadi kelompok terbawah dan desil 10 menjadi kelompok teratas dalam piramida kesejahteraan relatif.

Salah satu pemanfaatan data desil yang sedang dipersiapkan pemerintah berkaitan dengan tata kelola penyaluran subsidi energi. Saat ini, pemerintah tengah mengkaji pembatasan pembelian bahan bakar minyak jenis Pertalite bagi masyarakat yang masuk desil 9 dan 10. Desil 9 dan 10 merupakan dua kelompok teratas dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi dalam klasifikasi DTSEN. Rencana pembatasan ini ditujukan untuk memastikan efisiensi dan ketepatan alokasi subsidi agar lebih terarah kepada kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan.

Mengenai rencana kebijakan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa mekanisme pembatasan pembelian Pertalite bagi kelompok desil 9 dan 10 tersebut saat ini masih dalam kajian. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah terus menelaah seluruh aspek teknis dan mekanisme implementasi dari kebijakan ini sebelum diputuskan dan diberlakukan secara luas kepada publik.

Kajian yang tengah dilakukan oleh Kementerian ESDM ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman yang tepat atas data desil DTSEN. Karena desil merupakan hasil pemeringkatan relatif dari sepuluh karakteristik sosial ekonomi yang dihitung dengan Proxy Means Test, pemanfaatan desil 9 dan desil 10 sebagai acuan kebijakan memerlukan pertimbangan mekanisme yang matang dan komprehensif sebagaimana disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Kesimpulan dan Pentingnya Pemahaman Objektif atas Desil DTSEN

Penjelasan resmi yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik bersama jajaran pemerintah memberikan kepastian informasi mengenai fungsi dan metodologi desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional. Publik kini dapat memahami bahwa keberadaan seseorang atau suatu keluarga pada desil tertentu bukan merupakan vonis mutlak kemiskinan atau kekayaan nominal, melainkan posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan nasional yang dinamis dan multi-indikator.

Dengan cakupan yang mencapai 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga per 10 Juli 2026 pada DTSEN Versi 3, pemeringkatan desil 1 sampai 10 yang dihitung menggunakan metode Proxy Means Test memperhitungkan sepuluh aspek esensial: kondisi perumahan, sumber air minum, energi untuk memasak, kepemilikan aset, listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan disabilitas. Dukungan mekanisme pemutakhiran berkelanjutan melalui data administrasi, sensus dan survei, kontribusi kementerian/lembaga serta pemda, pengecekan lapangan, dan masukan masyarakat memastikan data tetap relevan untuk mendukung berbagai kajian kebijakan nasional, termasuk rencana pembatasan Pertalite bagi desil 9 dan 10.

Ikuti berputar.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

DTSENBPS

Berita Terbaru Lainnya

Update Penanganan Gempa NTT, 87 Korban Jiwa, 150.576 Warga Mengungsi, dan Pengerahan Bantuan Skala PenuhAturan Tumpang Tindih dan Dugaan Monopoli, Bisnis Ekspedisi Minta Integrasi Kebijakan ke PemerintahAkselerasi Pembangunan PLTS Nasional, Target 30 GW Prabowo, Konversi 13 GW PLTD, dan Lonjakan Permintaan Data CenterAda Anak Pejabat RI Hidup Melarat, Begini KisahnyaRI Punya Potensi Emas 1.800 Ton di Luar Sistem Keuangan, Mampu Perkuat Cadangan Nasional dan Saingi Posisi ChinaBandara Husein Dibuka Kembali, KCIC Yakin Whoosh Tetap DiminatiKWT Anjani Olah Singkong Jadi Keripik dan Tepung, UMB Bantu Perkuat UsahaWaspada Penularan Virus HPV Melalui Kontak Seksual dan Non-Seksual

Paling Banyak Dibaca

Jadwal UFC 330 Islam Makhachev vs Ian Garry dan Info Live Streaming

Olahraga

Jadwal UFC 330 Islam Makhachev vs Ian Garry dan Info Live Streaming

7 Agu 2026

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

Ekonomi

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

2 Agu 2026

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

Nasional

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

4 Agu 2026

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

Olahraga

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

1 Agu 2026

Tim Operasi Gabungan Sita Puluhan Ribu Batang Rokok Ilegal di Kota Malang

Nasional

Tim Operasi Gabungan Sita Puluhan Ribu Batang Rokok Ilegal di Kota Malang

9 Agu 2026

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

Ekonomi

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

1 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Jadwal UFC 330 Islam Makhachev vs Ian Garry dan Info Live StreamingOlahraga 路 7 Agu 2026
  2. 2Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per LiterEkonomi 路 2 Agu 2026
  3. 3Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RINasional 路 4 Agu 2026
  4. 4Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026Olahraga 路 1 Agu 2026
  5. 5Tim Operasi Gabungan Sita Puluhan Ribu Batang Rokok Ilegal di Kota MalangNasional 路 9 Agu 2026

berputar.id

Copyright 2026 berputar.id - All Rights Reserved.

Kategori

NewsHukumEkonomiNasionalInternasionalKeuanganBerita LokalBisnisOlahragaTeknologiPolitikBantuan Sosial

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap