Laju saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) anjlok tajam pada sesi I perdagangan Senin (14/9). Emiten pertambangan batu bara tersebut mencatatkan penurunan harga saham sebesar 11,13 persen ke level Rp10.975 hingga pukul 11.59 WIB.
Pelemahan ini memperdalam tren koreksi yang sudah dimulai sejak akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (11/9), saham BYAN ditutup melemah 5,73 persen di level Rp12.350. Membuka perdagangan awal pekan pada posisi yang sama di Rp12.350, BYAN sempat bergerak menguat tipis ke Rp12.400 sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh titik terendah Rp10.750. Secara keseluruhan, saham BYAN terpangkas Rp1.375 dari penutupan perdagangan sebelumnya.
Ketidakpastian Rencana Akuisisi
Tekanan jual terhadap saham BYAN bergulir di tengah perhatian pasar terhadap kabar akuisisi sekitar 62 persen saham perseroan oleh kelompok usaha milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. Laporan Bloomberg News pada Rabu (9/9) menyebutkan bahwa entitas bisnis yang dikendalikan Haji Isam mengajukan penawaran sekitar US$3 miliar atau berkisar Rp52,53 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.510 per dolar AS) untuk mengambil alih porsi saham tersebut. Kendati demikian, laporan itu belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.534, Sektor Kesehatan Pimpin Penurunan

Di pihak perseroan, manajemen Bayan Resources menyatakan belum mengetahui rencana akuisisi sekitar 62,2 persen saham oleh Haji Isam maupun pihak yang terafiliasi. Corporate Secretary Bayan Resources Jenny Quantero mengungkapkan perseroan belum memegang informasi mengenai pihak-pihak yang terlibat, struktur transaksi, porsi saham yang akan dialihkan, hingga nilai transaksi yang beredar di ruang publik.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menilai koreksi saham BYAN sangat mungkin berkaitan dengan dinamika kabar akuisisi tersebut. Namun, reaksi pasar saat ini lebih tertuju pada ketidakpastian harga dan struktur transaksi ketimbang rencana aksinya sendiri.
Pertagas Raih Penghargaan Tertinggi TOP GRC Awards 2026

Sementara itu, Founder Republik Investor Hendra Wardana memandang penurunan harga saham BYAN didorong oleh aksi ambil untung serta meredanya ekspektasi pasar seputar kabar pengambilalihan, bukan disebabkan oleh perubahan mendadak pada kondisi fundamental perusahaan.






