Kenaikan biaya hidup sehari-hari yang tidak diimbangi dengan kestabilan pendapatan memaksa sebagian kalangan pekerja mengambil langkah darurat, salah satunya dengan menguras simpanan pribadi. Fenomena makan tabungan ini menjadi kenyataan nyata bagi para pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK), memaksa mereka menyesuaikan gaya hidup, beralih profesi, hingga mencari sumber pemasukan sampingan demi bertahan hidup.
Kondisi tersebut terlihat dari perjalanan sejumlah mantan pekerja industri media yang mengalami PHK serentak pada Juni 2025. Tanpa kepastian finansial seperti masa sebelum PHK, tabungan yang awalnya disiapkan untuk rencana masa depan kini terpakai untuk menutupi kebutuhan pokok dan biaya operasional harian.
Bertahan di Jabodetabek: Cerita Mario Menyeimbangkan Kerja Lapangan dan Komedi
Bagi Mario (34), warga Bekasi, Jawa Barat, tantangan terbesar pasca-PHK adalah lonjakan pengeluaran rutin, terutama pada pos transportasi. Di tempat kerjanya saat ini, Mario dituntut untuk terus bergerak dinamis secara mobile.
Meski telah kembali bekerja sejak sekitar Maret 2026 setelah sebelumnya mengandalkan proyek lepas (freelance), kondisi finansialnya belum sepenuhnya pulih. Mario mencatat bahwa penghasilan yang diterimanya di kantor baru tidak berbeda jauh dari tempat kerja lamanya, namun kini tidak disertai fasilitas tunjangan atau benefit tambahan.
Saat Niat Baik Berbuah Kecewa, Drama Bensin Pedagang Kopi di Kelapa Gading

Situasi ini membuat sebagian tabungannya terpakai, termasuk dana yang tadinya dialokasikan untuk membayar uang muka (down payment/DP) rumah bersama pasangannya serta keperluan hidup harian. Untuk memperkuat arus kas keluarga, Mario kini menjalani profesi sampingan sebagai komika (stand up comedy) setelah sempat mengikuti kelas pelatihan khusus. Di sisi lain, Mario secara sadar menghindari jeratan utang:
- Tidak memanfaatkan pinjaman online (pinjol) maupun fitur paylater.
- Enggan meminjam dana dari lingkaran keluarga ataupun rekan kerja.
- Membatasi penggunaan kartu kredit hanya untuk transaksi dan kebutuhan tertentu.
Pergeseran Profesi Sula Menjadi Instruktur Yoga
Pengalaman serupa dialami Sula, yang juga kehilangan pekerjaan di perusahaan media pada Juni 2025. Sula memilih banting setir menjadi pelatih (coach) yoga profesional.
Kendati membuka jalur karier mandiri, profesi baru ini memiliki tantangan tersendiri berupa ketiadaan penghasilan bulanan yang tetap. Pendapatan dari melatih yoga dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi beban pengeluaran harian yang kian meningkat. Kondisi tersebut membuat simpanan lamanya kian menipis seiring berjalannya waktu, dengan bantuan kartu kredit sebagai instrumen transaksi fleksibel untuk menyiasati arus kas.
Tuyul Tak Bisa Tembus Bank, Ini Penjelasannya!

Yulia Merintis Jenama Fesyen di Bali
Strategi berbeda diambil Yulia yang kini menetap di Bali. Pasca-PHK pada pertengahan 2025, ia memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun lini usaha pakaian (clothing line) bersama rekannya.
Dalam mengelola keuangannya selama fase rintisan usaha, Yulia memegang prinsip disiplin anggaran yang ketat:
- Menolak ketergantungan pada pinjaman dana maupun fasilitas cicilan instan paylater.
- Menggunakan kartu kredit secara terbatas hanya untuk pos kebutuhan mendesak dengan kewajiban melunasinya secara penuh pada bulan berikutnya.
Langkah para pekerja ini memperlihatkan bahwa mengandalkan tabungan menjadi katup pengaman utama ketika guncangan kerja terjadi. Disiplin dalam membatasi utang konsumtif dan keengganan menggunakan pinjaman berbunga tinggi menjadi benteng pertahanan mereka sembari membangun stabilitas penghasilan yang baru.






