Pelaku pasar valuta asing menahan posisi nilai tukar rupiah hingga akhir perdagangan awal pekan. Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Senin (7/9/2026), rupiah bertahan di level Rp17.630 per dolar Amerika Serikat (AS), persis sama dengan posisi penutupan pada Jumat (4/9/2026).
Pergerakan mata uang Garuda sempat menunjukkan penguatan pada sesi pembukaan pagi hari, yakni naik 0,11% ke level Rp17.610 per dolar AS. Kendati demikian, tekanan jual kembali mendorong rupiah berbalik melemah hingga menyentuh titik terendah harian di level Rp17.665 per dolar AS sebelum akhirnya kembali menguat tipis dan bertengger di posisi penutupan akhir pekan lalu.
Penjualan Daihatsu Tumbuh 10 Persen, Gran Max dan LCGC Paling Diminati

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mencerminkan kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia bergerak melemah tipis 0,09% ke level 99,088 per pukul 15.00 WIB. Pelemahan terbatas ini terjadi setelah indeks sempat ditutup menguat 0,27% pada perdagangan Jumat sebelumnya. Sikap wait and see investor global masih dipengaruhi kalkulasi kebijakan moneter The Federal Reserve, di mana pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 57% bagi potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada September 2026.
Dari dalam negeri, stabilitas rupiah mendapat bantalan dari penguatan posisi cadangan devisa nasional. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat sebesar US$146,5 miliar. Angka tersebut mengalami peningkatan sebesar US$1,2 miliar dibandingkan posisi akhir Juli 2026 yang sebesar US$145,3 miliar.
Karhutla dan Abu Anak Krakatau Ancam Aktivitas Ekonomi hingga Rp 123,1 Triliun

Kenaikan cadangan devisa tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan sektor jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa saat ini dinilai memadai untuk menjaga ketahanan sektor eksternal, dengan kemampuan pembiayaan setara 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh melampaui standar kecukupan internasional di kisaran 3 bulan impor.






