Tim dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengumumkan hasil evaluasi medis terhadap salah satu siswi asal Kabupaten Karo yang sebelumnya diduga mengalami hilang ingatan akibat insiden keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan rangkaian pengujian klinis, tim dokter memastikan tidak menemukan adanya gangguan fungsi otak pada pasien tersebut.
Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Neurologi Anak RSCM, Prof. Setyo Handryastuti, menyatakan kesimpulan tersebut diperoleh melalui serangkaian proses diagnostik menyeluruh, mulai dari wawancara, pemeriksaan fisik dan neurologi, hingga perekaman aktivitas listrik otak melalui elektroensefalografi (EEG).
"Insha Allah, saya bisa pastikan bahwa tidak ada gangguan fungsi otak pada ananda yang pertama ya," kata Prof. Handry.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Dengan hasil evaluasi fungsi saraf yang baik, kondisi pasien dinyatakan memungkinkan untuk segera kembali bersekolah dan menjalankan rutinitas hariannya secara normal.
Selain pemeriksaan fisik dan saraf, pemantauan kejiwaan pasien turut dilakukan. Psikiater Anak dan Remaja Prof. Tjhin Wiguna mengungkapkan bahwa status mental dan suasana emosi siswi tersebut saat ini berada dalam kondisi cukup baik dan stabil. Meski sesekali masih memperlihatkan rasa cemas atau gelisah, tim medis tetap memberikan pendampingan berkala guna memulihkan rasa nyaman pasien.
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Penanganan medis di Jakarta ini merupakan langkah terpadu setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengoordinasikan tim ahli multidisiplin di RSCM. Tim pemeriksa tersebut menghimpun dokter spesialis anak, ahli neurologi, psikiater anak, dokter spesialis penyakit dalam, serta perwakilan dari kolegium anak guna memeriksa kondisi pasien secara menyeluruh.
Sebelumnya, dua orang anak yang menjadi terduga korban keracunan MBG di Kabupaten Karo diberangkatkan ke Jakarta pada Sabtu (12/9). Keduanya diterbangkan menggunakan pesawat komersial dengan pendampingan langsung dari orang tua serta tim tenaga medis untuk menjalani perawatan rujukan komprehensif.






