Penggunaan galon air minum isi ulang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemenuhan kebutuhan cairan sehari-hari masyarakat di Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) memberikan temuan baru yang perlu dicermati oleh para konsumen. Penelitian yang dijalankan oleh tim dari FKM Unair berhasil mengidentifikasi korelasi yang signifikan secara statistik terkait konsumsi air minum dalam kemasan dengan kandungan Bisphenol A (BPA). Konsumsi tersebut terbukti berkaitan dengan peningkatan risiko riwayat alergi dan hipersensitivitas pada kelompok usia dewasa. Temuan penting dari riset ini telah dipublikasikan secara resmi dalam artikel ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal AIMS Environmental Science edisi tahun 2025.
BPA merupakan bahan kimia industri yang lazim dimanfaatkan dalam proses produksi plastik keras berjenis polikarbonat. Material ini sering kali diaplikasikan pada berbagai wadah, termasuk galon air minum isi ulang yang banyak beredar di pasaran. Selama ini, perdebatan publik mengenai bahaya BPA lebih banyak menyoroti risiko penyakit berat seperti kanker atau gangguan reproduksi. Namun, dampak paparan bahan kimia ini terhadap sistem kekebalan tubuh manusia justru kerap luput dari perhatian masyarakat luas. Melalui artikel ilmiah tersebut, tim peneliti mencatat bahwa terdapat hubungan yang berkesinambungan antara paparan BPA melalui konsumsi air minum dalam kemasan dengan munculnya gangguan imunosupresif.
Dr. Sudarmaji, Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unair yang juga merupakan anggota tim riset, memaparkan bahwa selama lebih dari satu dekade terakhir, sudah cukup banyak penelitian eksperimental maupun epidemiologi yang melaporkan potensi pajanan BPA dalam memengaruhi sistem imun. Menurutnya, hasil dari penelitian yang dilakukan di Surabaya ini dapat menjadi tambahan bukti ilmiah yang sangat berharga, khususnya yang berasal dari dalam negeri. Ia menegaskan bahwa pajanan BPA melalui air minum dalam kemasan layak untuk terus dipantau secara berkala sebagai salah satu isu kesehatan lingkungan di Indonesia.
Dokter Paru Ungkap Dampak Hirup Abu Vulkanik dan Cara Melindungi Saluran Pernapasan

Studi lapangan yang diinisiasi oleh FKM Unair ini secara khusus mengamati 96 responden dewasa yang bermukim di Kelurahan Tambak Wedi, Kota Surabaya. Para peserta penelitian tersebut tercatat memiliki kebiasaan mengonsumsi air minum secara rutin, dengan rata-rata konsumsi mencapai sekitar dua liter air setiap harinya. Durasi paparan yang diamati oleh tim peneliti juga menunjukkan rentang waktu yang sangat panjang, yakni selama kurang lebih 31 tahun. Pajanan kumulatif jangka panjang inilah yang menjadi salah satu titik perhatian utama dalam menganalisis dampak kesehatan secara menyeluruh pada warga setempat.
Selain melakukan pengamatan terhadap kondisi kesehatan para responden, tim riset juga melaksanakan uji laboratorium terhadap produk air minum yang beredar. Pengujian ini melibatkan 10 merek air kemasan galon yang lazim dikonsumsi oleh masyarakat. Hasil analisis memperlihatkan fakta bahwa seluruh sampel merek air kemasan galon yang diuji tersebut terbukti positif mengandung BPA. Dalam pengujian tersebut, peneliti juga menemukan bahwa kadar tertinggi BPA yang terkandung di dalam sampel air galon mencapai angka 0,099 mikrogram per liter.
Gubernur Lampung Alihkan KBM ke Daring Akibat Sebaran Abu Anak Krakatau

Terkait korelasi positif dengan gangguan imunosupresif berupa riwayat hipersensitivitas, Dr. Sudarmaji turut menjelaskan mekanisme biologis yang terjadi di dalam tubuh manusia. Secara biologis, zat BPA diduga kuat dapat meningkatkan stres oksidatif dan memicu timbulnya proses inflamasi atau peradangan. Akibat dari proses tersebut, pada individu tertentu, respons imun dapat menjadi tidak seimbang sehingga reaksi hipersensitivitas atau alergi menjadi lebih mudah muncul. Hal ini menegaskan bahwa potensi gangguan kesehatan akibat zat kimia tersebut sangat erat kaitannya dengan paparan yang berlangsung secara terus-menerus.
Lebih jauh, Dr. Sudarmaji mengingatkan adanya kelompok-kelompok tertentu yang paling rentan terhadap efek imunotoksik dari paparan BPA. Kelompok rentan tersebut meliputi janin, bayi, anak-anak, ibu hamil, serta individu yang sistem imunnya belum matang atau sedang mengalami gangguan kesehatan tertentu. Sebagai penutup, ia menyatakan bahwa temuan riset ini harus dijadikan sebagai sinyal ilmiah agar pajanan BPA tetap dikendalikan secara serius. Upaya pengendalian ini dapat diwujudkan terutama melalui pengawasan mutu kemasan pangan yang ketat, peningkatan edukasi kepada masyarakat luas, serta pelaksanaan penelitian lanjutan di masa mendatang.






