Wacana pembentukan badan komersial baru oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menjadi fokus perhatian utama dalam tata kelola sepak bola dunia saat ini. Rencana strategi bisnis yang diinisiasi oleh Presiden FIFA Gianni Infantino ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi finansial turnamen tingkat internasional melalui keterlibatan investor swasta. Di Indonesia, Menteri Pemuda dan Olahraga yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir, menegaskan dukungannya terhadap rencana FIFA yang ingin menjual sebagian dari hak komersialisasi Piala Dunia. Pernyataan dukungan ini disampaikan langsung oleh Erick Thohir di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, pada Jumat (31/7).
Inti dari proposal komersialisasi ini adalah rencana pembentukan anak perusahaan khusus yang dinamakan FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas bisnis ini dirancang secara spesifik untuk memegang wewenang penuh dalam mengelola berbagai aset komersial utama kompetisi FIFA, yang tentunya mencakup ajang Piala Dunia. Ruang lingkup pengelolaan FFE nantinya akan meliputi hak siar televisi, kesepakatan sponsor, penjualan tiket pertandingan, hingga lisensi produk. Estimasi nilai valuasi untuk entitas FFE ini diperkirakan mencapai angka 20 miliar dolar AS, atau jika dikonversikan setara dengan kurang lebih Rp360 triliun. Angka tersebut diharapkan dapat menjadi sumber pendanaan baru bagi pengembangan sepak bola secara global.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Dukungan yang disampaikan oleh pihak Indonesia berlandaskan pada janji alokasi dana pengembangan yang ditawarkan dari pembentukan badan komersial tersebut. Apabila proposal FFE disetujui secara resmi, sebanyak 211 asosiasi anggota FIFA dijanjikan pendanaan masing-masing sebesar 20 juta dolar AS atau sekitar Rp360 miliar. Dana ini ditujukan untuk membiayai program pengembangan sepak bola di negara masing-masing. Bagi PSSI, kehadiran dan sinergi dengan FIFA dinilai memberikan kontribusi positif terhadap pembenahan sepak bola nasional dalam tiga tahun terakhir. Hal ini terbukti dari keberadaan kantor FIFA di Indonesia serta investasi langsung yang berkisar antara 1 hingga 2 juta dolar AS setiap tahunnya untuk membiayai sekitar 13 hingga 15 kegiatan. Berbagai program serta pembenahan tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan peringkat tim nasional sepak bola Indonesia yang melesat naik dari urutan 174 hingga mencapai posisi 118.
Di sisi lain, rencana pelepasan sebagian hak komersial kepada pihak swasta ini menuai gelombang penolakan keras dari sejumlah konfederasi dan federasi kuat di tingkat global. Seluruh 55 federasi yang bernaung di bawah UEFA menyatakan kesepakatan bulat untuk memboikot ajang kompetisi FIFA sebagai aksi protes terhadap skema investasi swasta ini. Penolakan serupa juga disuarakan secara resmi oleh asosiasi liga-liga di Eropa, yakni European Leagues. Dari kawasan Amerika, federasi sepak bola Amerika Serikat (US Soccer) secara terbuka memberikan dukungan penuh atas langkah Concacaf yang menolak keras rencana pelepasan aset komersial Piala Dunia kepada pihak investor swasta. Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) hingga saat ini belum menyatakan dukungan maupun penolakan terkait pembentukan FFE tersebut.
Prakiraan Cuaca Sumut 17 September 2026, Hujan Ringan Berpotensi Merata hingga Malam Hari

Selain polemik mengenai komersialisasi dan pembentukan FIFA Forward Enterprise, dunia sepak bola internasional juga diwarnai oleh berbagai dinamika penting lainnya. Bintang sepak bola asal Brasil, Neymar, secara resmi mengumumkan pensiun dari tim nasional Brasil setelah 16 tahun berkarier membela negaranya. Sementara itu, di ranah penegakan aturan disiplin, proses pendisiplinan telah dibuka terhadap beberapa pemain, yakni Molina, Almada, dan Gavi, terkait dugaan tindakan tak sportif dalam pertandingan. Tidak hanya itu, Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) juga mengeluarkan penegasan penting terkait penggunaan teknologi di lapangan hijau. IFAB menegaskan bahwa Video Assistant Referee (VAR) tidak berhak memberi kartu kuning simulasi kepada pemain yang bukan menjadi objek tinjauan utama. Penegasan aturan ini mencuat menyusul insiden yang melibatkan pemain Swis, Breel Embolo, saat laga antara Swis melawan Argentina pada ajang Piala Dunia 2026.






