Libya, negara pemegang cadangan minyak bumi terbesar di benua Afrika, kini menghadapi kelumpuhan akibat krisis energi terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah gelombang panas ekstrem, warga di berbagai wilayah harus berhadapan dengan pemadaman listrik berkepanjangan serta kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang parah.
Kondisi ini menjadi kontras yang tajam bagi negara dengan cadangan minyak mentah mencapai sekitar 48 miliar barel dan kapasitas produksi sekitar 1,5 juta barel per hari. Meski berstatus sebagai raksasa energi regional, upaya peningkatan produksi bahan bakar olahan domestik hingga 2 juta barel per hari dinilai hanya mampu memenuhi sepertiga dari total kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Akibat keterbatasan fasilitas pengolahan, Libya justru sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Data dari perusahaan minyak nasional Libya mencatat nilai impor bahan bakar negara tersebut menembus angka US$ 7,8 miliar.
Malaysia Tambah Kuota BBM Subsidi demi Tekan Biaya Hidup Warga

Dampak Langsung ke Aktivitas Warga
Gangguan pasokan energi memukul sektor usaha kecil dan kehidupan rumah tangga secara langsung. Pemadaman listrik berkepanjangan menyebabkan kerusakan inventaris pedagang, seperti yang dialami pemilik toko kelontong Slimane Fitouri. Ia kehilangan dua lemari es serta produk susu yang membusuk akibat terputusnya aliran listrik. Hal serupa dialami Abderrahmane Souissi, seorang pegawai kementerian kesehatan Libya, yang mendapati seluruh stok makanan beku keluarganya rusak.
Lonjakan kebutuhan masyarakat terhadap sumber daya mandiri seketika memicu kenaikan harga mesin generator listrik di pasar domestik.
Laba Jasa Marga Tembus Rp 1,9 Triliun di Semester I 2026

Sementara itu, di sektor transportasi, pengemudi kendaraan di kawasan Libya bagian barat dan tengah terpaksa mengantre berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Abdeslam Zarti menuturkan bahwa deretan kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dapat mengular hingga sejauh empat kilometer dengan waktu tunggu mencapai enam jam atau lebih.
Faktor Tata Kelola dan Pemeliharaan
Krisis energi yang melanda Libya tidak lepas dari persoalan struktural yang berlarut-larut. Kalangan ahli dan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai akar permasalahan utamanya bertumpu pada praktik korupsi, lemahnya tata kelola pemerintahan, serta minimnya perawatan rutin terhadap infrastruktur pembangkit listrik selama bertahun-tahun.






