Kinerja pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) regional di Provinsi Jawa Barat mencatatkan surplus sebesar Rp 22,02 triliun hingga akhir Juli 2026. Capaian positif ini ditopang oleh realisasi pendapatan negara yang melampaui total realisasi belanja pada periode yang sama.
Hingga Juli 2026, total pendapatan negara di Jawa Barat terhimpun sebesar Rp 85,61 triliun, atau tumbuh 6,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp 63,59 triliun.
Penerimaan perpajakan menjadi penopang utama pendapatan daerah dengan kontribusi Rp 81,30 triliun, mengalami pertumbuhan 7,35 persen secara tahunan. Dari pos perpajakan tersebut, penerimaan pajak menyumbang Rp 63,84 triliun (tumbuh 10,41 persen), sedangkan penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai terealisasi senilai Rp 17,46 triliun. Sektor industri pengolahan tercatat menjadi kontributor penerimaan pajak terbesar di Jawa Barat dengan sumbangan Rp 30,60 triliun, atau setara 47,93 persen dari keseluruhan penerimaan pajak wilayah tersebut.
Breaking, IHSG Anjlok 1% Lebih Balik ke Level 6.429

Kinerja Belanja dan Transfer Daerah
Kendati total belanja negara di Jawa Barat terkontraksi 1,45 persen secara tahunan, pos belanja kementerian/lembaga (K/L) justru menunjukkan akselerasi dengan kenaikan 28,86 persen menjadi Rp 26,61 triliun. Pendorong utama kenaikan belanja K/L tersebut berasal dari pos belanja modal yang menyerap Rp 3,11 triliun, melonjak 115,37 persen dibandingkan catatan pada Juli 2025.
Untuk penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) dan Dana Desa di Jawa Barat, realisasinya telah menyentuh angka Rp 36,98 triliun hingga Juli 2026. Angka tersebut setara dengan 59,82 persen dari total alokasi pagu yang disediakan.
Onderdil Mobil Lawas Makin Langka, Barang Copotan Jadi Penyelamat

Selain pos anggaran belanja rutin, dukungan pembiayaan terhadap sektor riil dan usaha rakyat terus bergulir. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Barat mencapai Rp 23,24 triliun yang dinikmati oleh 357,3 ribu debitur. Pada segmen usaha mikro, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) tersalurkan sebesar Rp 1,31 triliun kepada 226,4 ribu debitur.
Kinerja APBN ini berjalan beriringan dengan kondisi makroekonomi regional. Pada triwulan II 2026, perekonomian Jawa Barat tumbuh 5,73 persen secara tahunan (year-on-year) dan 2,25 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter), yang mayoritas ditopang oleh kinerja industri pengolahan. Pada saat yang sama, tingkat inflasi Jawa Barat per Juli 2026 berada di level 2,72 persen secara tahunan, didukung neraca perdagangan periode Januari hingga Juli 2026 yang mencatatkan surplus sebesar 13,79 miliar dolar AS.






