Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi dinamika atmosfer dan prakiraan cuaca untuk Senin, 24 Agustus 2026. Kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan variasi yang cukup kontras, mulai dari potensi curah hujan berintensitas tinggi akibat gangguan siklonik hingga ancaman penurunan jarak pandang akibat kabut asap di wilayah yang kering.
Masyarakat di sejumlah daerah diimbau untuk memantau dinamika cuaca lokal, terutama menyangkut aktivitas maritim, potensi banjir atau longsor akibat hujan lebat, serta dampak sebaran asap.
Pantauan Bibit Siklon Tropis 97E di Pasifik Utara Papua
Salah satu pemicu utama perubahan pola cuaca di wilayah timur Indonesia adalah terdeteksinya Bibit Siklon Tropis 97E di Samudra Pasifik utara Papua. Berdasarkan analisis BMKG, sistem ini memiliki pusat tekanan udara rendah sebesar 998 hPa dengan kecepatan angin maksimum di sekitar pusat pusaran mencapai 35 knot.
Sistem 97E bergerak ke arah timur menuju laut timur dan memiliki peluang tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam rentang waktu 48 hingga 72 jam ke depan. Aktivitas sistem ini turut menginduksi:
- Terbentuknya daerah pertemuan angin (konfluensi) dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di pesisir barat Filipina, Laut Filipina, serta Samudra Pasifik utara Pulau Halmahera hingga Papua.
- Pembentukan sirkulasi siklonik sekunder di kawasan Teluk Cenderawasih.
- Sabuk konvergensi dan konfluensi yang memanjang di perairan timur Papua Barat, perairan utara Papua Tengah, dan area sekitarnya.
Kondisi dinamika atmosfer tersebut memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan di sepanjang jalur konvergensi dan wilayah perairan timur nusantara.
Tabrakan Beruntun di Dekat Grahadi Surabaya, Pengemudi Mabuk Akumulasi Pelanggaran dan Sebabkan Korban Jiwa

Sumatra Utara Masuk Status Siaga Hujan Lebat
Selain dinamika di kawasan timur, BMKG mengingatkan masyarakat di bagian barat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan. Wilayah Sumatra Utara ditempatkan dalam status Siaga menyusul potensi ancaman hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang berpotensi disertai petir dan angin kencang.
Warga di kawasan rawan bencana hidrometeorologi diimbau untuk mewaspadai potensi genangan air, luapan sungai, maupun tanah longsor selama periode cuaca ekstrem berlangsung.
Kewaspadaan Kabut Asap, Penurunan Curah Hujan, dan Titik Panas
Kondisi berbeda terpantau di sebagian wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Tengah, di mana kondisi kering memicu risiko kebakaran lahan dan kabut asap. BMKG mengingatkan masyarakat di Banjarmasin, Kendari, Nabire, dan Jayawijaya agar mengantisipasi potensi penurunan jarak pandang akibat kabut asap.
Di Nabire, analisis curah hujan dalam tiga dasarian terakhir menunjukkan catatan yang sangat rendah. Penurunan curah hujan ini berdampak langsung pada menyusutnya ketersediaan cadangan air di wilayah tersebut.
Istana Bantah Isu Haji Isam Pimpin Penanganan Karhutla RI

Sementara itu, BMKG Stasiun Balikpapan mendeteksi keberadaan 11.869 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Timur sepanjang Agustus 2026. Situasi ini diperkuat dengan imbauan kewaspadaan terhadap ancaman puncak El Ni帽o yang diproyeksikan terjadi pada rentang September hingga Oktober mendatang.
Peringatan Dini Gelombang Tinggi di Jalur Laut
Sektor kelautan dan aktivitas pelayaran juga menerima perhatian khusus. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi yang dapat mencapai hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia. Peringatan dini gelombang laut ini berlaku mulai 23 hingga 26 Agustus 2026.
Nelayan, operator kapal penumpang, dan pelaku aktivitas logistik perairan diminta memperhatikan perkembangan informasi kecepatan angin dan ketinggian gelombang sebelum berlayar guna mencegah risiko kecelakaan laut.






