Perhelatan Kirab Pawai Budaya Ancak Agung Jember 2026 yang diselenggarakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berujung ricuh. Tradisi tahunan yang awalnya berjalan tertib mendadak tidak terkendali saat ratusan warga merangsek maju dan menjarah isi gunungan hasil bumi sebelum prosesi adat rampung dilaksanakan.
Kericuhan tersebut terjadi ketika rombongan pembawa ancak mulai memasuki kawasan pusat kota, memicu aksi saling berebut kebutuhan pokok di tengah kerumunan massa.
Awal Mula Kirab dan Rute Pawai
Rangkaian kegiatan kirab dimulai pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Sebanyak 527 ancak agung yang dibawa oleh para peserta dari berbagai penjuru wilayah Kabupaten Jember dilepas dari titik tolak di simpang tiga perbatasan Jalan Gajah Mada dan Jalan Sultan Agung.
Para peserta berjalan kaki sejauh 1,1 kilometer menyusuri rute menuju Alun-Alun Jember Nusantara. Sepanjang jalan, mereka memanggul rangkaian gunungan yang berisi beragam komoditas hasil bumi, mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, hingga bahan pokok. Pada rute awal, arak-arakan terpantau rapi berkat keberadaan barikade pagar pembatas berwarna oranye yang menahan antusiasme penonton di pinggir jalan.
Hasil Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Garuda Pertiwi Raih Runner-Up Usai Takluk 0-1 dari Thailand U16

Pemicu Kericuhan di Alun-Alun Jember Nusantara
Situasi mulai berubah drastis saat rombongan kirab mendekati titik akhir di kawasan Alun-Alun Jember Nusantara. Titik rawan bermula di sekitar pos panitia yang berlokasi di depan Masjid Jami'. Di area tersebut hingga ke pusat alun-alun, pagar pembatas besi pengaman rute tidak lagi terpasang.
Ketiadaan barikade membuat konsentrasi massa tak lagi terbendung. Ratusan warga langsung menyerbu barisan ancak dan memperebutkan muatannya sebelum prosesi doa bersama dan penilaian juri tuntas dilakukan.
Salah seorang peserta kirab, Indah Widya, menyampaikan kekecewaannya atas insiden tersebut. Menurutnya, ancak seharusnya dikumpulkan terlebih dahulu di tengah alun-alun untuk dinilai dalam perlombaan dan didoakan bersama sebelum dibagikan. Upayanya berteriak menghalau warga tidak membuahkan hasil karena desakan massa terlalu kuat.
Sementara itu, Putri, seorang warga yang berprofesi sebagai pedagang nasi di kawasan kampus, mengaku berhasil membawa pulang sejumlah bahan makanan seperti beras, gula, teh, serta aneka sayuran mencakup tomat, terong, cabai, dan kacang panjang dari gunungan yang diperebutkan.
Masih Tinggal Bersama Orang Tua, Bagaimana Menjaga Batasan di Usia Dewasa?

Rekor MURI yang Tetap Terpecahkan
Meski diwarnai kekacauan di garis akhir, agenda budaya ini tetap membukukan prestasi resmi. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) mengukuhkan capaian rekor kirab Ancak Agung terbanyak dengan jumlah 527 ancak, memecahkan rekor sebelumnya yang berada di angka 449 ancak.
Senior Representatif MURI Ari Andriani menyatakan bahwa kirab ini berhasil melampaui rekor lama lebih dari 10 persen. Selain rekor peserta ancak agung terbanyak, MURI mencatatkan rekor kedua berupa pembuatan gunungan tertinggi yang dirangkai dari 1.600 bungkus makanan khas suwar-suwir.
Bupati Jember Muhammad Fawait menjelaskan bahwa selain memecahkan rekor, perhelatan akbar ini menjadi ikon daerah yang membawa tiga tujuan utama, yakni memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan, serta merawat kerukunan dan toleransi di masyarakat.






