Pemerintah terus berupaya meningkatkan bauran energi baru terbarukan di tanah air, salah satunya dengan mengoptimalkan potensi energi air. Dalam dokumen perencanaan strategis Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk periode tahun 2025 hingga 2034, sektor pembangkit hidro mendapatkan porsi pengembangan yang cukup signifikan. Peta jalan ini dirancang untuk memandu arah pembangunan infrastruktur kelistrikan nasional selama satu dekade ke depan.
Detail mengenai rencana pembangunan ini disampaikan oleh Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Suroso Isnandar. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian acara Indonesia Hydropower Summit 2026 yang diselenggarakan di Kantor PLN, Jakarta Selatan. Dalam kesempatan tersebut, dipaparkan bahwa penyediaan infrastruktur listrik berbasis air ini akan melibatkan kolaborasi erat antara badan usaha milik negara dan sektor swasta.
Secara keseluruhan, rencana strategis ini mencakup ratusan proyek pembangkit listrik dengan kapasitas total yang mencapai belasan gigawatt. Keterlibatan pihak swasta diproyeksikan menjadi motor penggerak utama dalam pemenuhan target kapasitas tersebut. Untuk memahami lebih lanjut mengenai rincian proyek, alokasi kapasitas, serta pembagian peran masing-masing pihak, berikut adalah daftar pertanyaan dan jawaban yang merangkum poin-poin penting dari rencana tersebut.
Pertanyaan: Berapa banyak proyek pembangkit listrik berbasis air yang direncanakan dalam RUPTL 2025–2034 dan berapa kapasitas totalnya?
Jawaban: Berdasarkan dokumen perencanaan RUPTL untuk periode 2025–2034, terdapat total 315 proyek pembangkit listrik yang berbasis pada energi air. Proyek-proyek tersebut mencakup kategori Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) serta Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Secara akumulatif, seluruh proyek tersebut ditargetkan memiliki kapasitas daya bersih mencapai 11,7 gigawatt (GW).
Pertanyaan: Bagaimana proyeksi keterlibatan pihak swasta atau Independent Power Producer dalam rencana besar ini?
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Jawaban: Pihak swasta atau Independent Power Producer (IPP) akan memegang peran yang sangat dominan. Dari total 315 proyek yang direncanakan oleh pemerintah dan PLN, pihak swasta diproyeksikan akan menggarap sekitar 262 proyek di antaranya. Keterlibatan aktif dari sektor swasta ini diharapkan dapat mempercepat realisasi pembangunan pembangkit ramah lingkungan di berbagai daerah.
Pertanyaan: Bagaimana rincian pembagian proyek dan kapasitas yang akan digarap oleh Independent Power Producer?
Jawaban: Untuk proyek yang dikerjakan oleh pihak swasta (IPP), pembagian kerja dikelompokkan menjadi dua segmen utama. Segmen pertama adalah proyek PLTA, di mana pihak swasta direncanakan untuk mengembangkan sebanyak 48 proyek dengan total kapasitas daya mencapai 9.441 megawatt (MW). Sementara itu, pada segmen kedua yang berfokus pada PLTM dengan kapasitas masing-masing di bawah 30 MW, pengembang swasta akan menggarap sebanyak 214 proyek dengan kapasitas total sebesar 1.110 MW.
Pertanyaan: Apa saja proyek yang akan dikerjakan langsung oleh PT PLN (Persero) secara mandiri?
Jawaban: Di samping porsi yang dialokasikan untuk sektor swasta, PT PLN (Persero) juga akan mengeksekusi sebagian proyek secara mandiri. Secara rinci, PLN direncanakan untuk mengembangkan sebanyak 7 proyek PLTA dengan kapasitas daya kumulatif sebesar 361 MW. Selain itu, PLN juga akan menggarap 20 proyek pembangkit listrik berskala kecil yang masuk dalam kategori mikrohidro dan minihidro, dengan total kapasitas mencapai 51 MW.
Pertanyaan: Bagaimana peran unit subholding milik PLN dalam pembagian proyek hidro ini?
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Jawaban: Unit subholding yang berada di bawah naungan PLN juga mendapatkan alokasi pengerjaan untuk mendukung pemenuhan target kelistrikan nasional. Berdasarkan rencana yang ada, proyek yang dikelola oleh subholding PLN mencakup pembangunan PLTA dengan kapasitas total sekitar 700 MW. Tidak hanya itu, subholding PLN juga ditargetkan untuk mengelola proyek pembangkit mikrohidro dengan kapasitas gabungan sebesar 28 MW.
Pertanyaan: Apa fungsi utama PT PLN (Persero) dalam mendukung kesuksesan proyek yang digarap oleh pihak swasta?
Jawaban: Dalam skema kemitraan ini, PT PLN (Persero) memegang peran kunci sebagai enabler atau fasilitator bagi para pengembang swasta. PLN bertanggung jawab penuh untuk menyiapkan jaringan transmisi listrik serta infrastruktur kelistrikan pendukung lainnya yang dibutuhkan. Penyediaan jaringan transmisi yang memadai sangat krusial agar energi listrik yang diproduksi oleh pembangkit milik swasta dapat disalurkan secara aman dan terintegrasi ke dalam sistem kelistrikan nasional.
Pertanyaan: Apakah ada batasan atau faktor ketidakpastian yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan proyek-proyek ini?
Jawaban: Perlu dipahami bahwa seluruh angka, jumlah proyek, dan kapasitas daya yang dipaparkan merupakan proyeksi jangka panjang yang tertuang dalam dokumen perencanaan RUPTL 2025–2034. Realisasi pembangunan di lapangan sangat bergantung pada berbagai faktor teknis dan non-teknis. Beberapa faktor penentu tersebut meliputi kesiapan jaringan transmisi yang dibangun PLN, kelayakan studi teknis, proses perizinan, hingga kemampuan pendanaan dan eksekusi dari masing-masing pengembang swasta. Oleh karena itu, jadwal penyelesaian proyek serta kapasitas akhir yang terpasang di masa depan masih memiliki potensi untuk disesuaikan kembali.






