Pergerakan harga minyak mentah dunia kembali menjadi sorotan utama pasar setelah acuan Brent tercatat meluncur ke bawah ambang batas US$90 per barel. Berdasarkan data Refinitiv pada hari Kamis, 30 Juli 2026 hingga pukul 11.00 WIB, minyak mentah jenis Brent berada di level US$89,60 per barel. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 1,26 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level US$90,74 per barel. Pada saat yang bersamaan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami koreksi sebesar 0,97 persen menjadi US$83,64 per barel dari posisi sebelumnya di US$84,46 per barel. Penurunan harga pada hari Kamis ini terjadi setelah pasar komoditas energi tersebut sempat mengalami fluktuasi yang sangat tajam akibat berbagai dinamika politik dan logistik internasional.
Sebelum koreksi penurunan tersebut terjadi, pasar minyak mentah global sempat menyaksikan reli harga yang sangat masif. Pada perdagangan hari Rabu, harga acuan Brent sempat melambung hampir 8 persen dan WTI naik lebih dari 6 persen hanya dalam hitungan satu hari. Lonjakan harga yang dramatis ini sekaligus membalikkan keadaan setelah adanya penurunan sekitar 5 persen yang terjadi pada hari sebelumnya, tepatnya ketika para pelaku pasar sempat menaruh harapan bahwa ketegangan geopolitik mulai mereda. Kenaikan drastis ini dipicu oleh eskalasi konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memburuk setelah serangan udara gabungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi menghantam sasaran kelompok paramiliter pro-Iran di wilayah Irak, yang dilakukan sebagai tindakan balasan atas serangan drone ke fasilitas minyak milik Arab Saudi. Respons balasan dari pihak lawan pun segera bermunculan, di mana pihak Iran kemudian mengaku bertanggung jawab secara langsung atas serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, serta serangan terhadap tiga kapal tanker minyak yang sedang melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang dinyatakan tidak sah.
Bursa Mineral ICOMEX Bakal Dibentuk Hari Ini, Beroperasi 4 Januari 2027

Meskipun tensi politik di kawasan Timur Tengah tetap berada pada tingkat yang tinggi, terdapat sedikit sinyal positif pada sisi pergerakan kapal komoditas di beberapa jalur pelayaran vital. Data pelayaran awal memperlihatkan bahwa sebanyak 39 kapal komoditas berhasil melintasi Selat Bab el-Mandeb menuju kawasan Laut Merah pada hari Selasa. Jumlah penyeberangan kapal ini tercatat sebagai angka yang tertinggi sejak tanggal 19 Juli. Kondisi kelancaran parsial ini memberikan sinyal kepada pasar bahwa pasokan minyak mentah masih dapat keluar dari kawasan Timur Tengah melalui rute-rute alternatif. Hal ini pada gilirannya membuat sebagian premi risiko yang sebelumnya sempat mendorong harga minyak ke level tinggi mulai berkurang. Pemulihan lalu lintas komoditas tersebut juga terjadi di tengah kabar bahwa Arab Saudi sedang berupaya keras membangun sebuah koalisi internasional guna melindungi jalur pelayaran di Laut Merah dari ancaman kelompok Houthi. Sebelumnya, kelompok Houthi telah mengumumkan penerapan blokade laut terhadap Arab Saudi dan secara aktif memperluas jangkauan serangan mereka ke kapal-kapal tanker yang berada di sekitar Bab el-Mandeb.
Di sisi lain, potensi hambatan pasokan minyak global masih membayangi karena pergerakan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan masih sangat terbatas. Ketegangan diplomasi di jalur perdagangan utama ini kian menjadi rumit setelah pemerintah Iran secara resmi menolak usulan dari Oman mengenai skema pengelolaan bersama Selat Hormuz. Menanggapi situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, Analis IG, Tony Sycamore, memberikan pandangannya. Ia menilai bahwa semakin lama situasi gangguan navigasi ini berlangsung, maka semakin besar pula peluang bagi para pelaku pasar untuk mengembangkan jalur-jalur distribusi alternatif yang baru. Langkah penyediaan rute pengganti ini dinilai sangat penting untuk mengurangi tingkat ketergantungan industri energi dunia terhadap Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik kemacetan utama.
The Fed Naikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Menguat

Apabila ditilik dari rentang waktu yang lebih luas, pergerakan harga minyak mentah per tanggal 30 Juli 2026 ini sebenarnya masih menunjukkan tren penguatan jika dibandingkan dengan periode beberapa hari sebelumnya. Meskipun saat ini harga sedang terkoreksi turun, level minyak masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan posisi pada awal pekan. Kenaikan harga jika dibandingkan dengan posisi pada tanggal 28 Juli 2026 bahkan mencapai sekitar 6,6 persen untuk acuan Brent dan 5,5 persen untuk acuan WTI. Sementara itu, jika disandingkan dengan harga pada tanggal 20 Juli 2026, minyak mentah Brent tercatat masih menguat sekitar 0,43 persen dan WTI mengalami kenaikan sebesar 0,49 persen. Dinamika persentase ini secara jelas memperlihatkan bagaimana pasar energi global terus berupaya menyeimbangkan harga di antara tingginya faktor risiko geopolitik regional dan kelancaran arus logistik barang secara keseluruhan.






