Kementerian Perhubungan resmi memperpanjang penutupan operasional enam bandara selama empat jam ke depan akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam konferensi pers terkait penanganan situasi pascaerupsi pada Minggu (6/9) sekitar pukul 13.00 WIB.
Enam bandara yang terdampak perpanjangan penutupan ini meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Raden Inten, Bandara Budiarto, Bandara Pondok Cabe, dan Bandara Husein Sastranegara.
Sebagai langkah kontinjensi untuk meminimalkan disrupsi perjalanan udara, pemerintah menyiapkan tiga bandara alternatif untuk pendaratan armada maskapai atau operator penerbangan. Ketiga titik pengalihan tersebut berada di Bandara Kertajati Jawa Barat, Bandara Ahmad Yani Semarang, dan Bandara Juanda Surabaya.
Cerita Warga Banten Alami Gempa Kecil saat Erupsi Anak Krakatau

Penutupan ruang udara ini dipicu oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi cukup besar sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9). Semburan material vulkanik telah menjangkau sejumlah daerah di Lampung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, hingga DKI Jakarta.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengacu pada data PVMBG, VAAC Darwin, dan analisis citra RGB Satelit Himawari-9, arah persebaran abu terbelah ke dalam dua koridor utama. Lintasan pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan yang menutupi wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya. Adapun lintasan kedua mengarah ke barat daya hingga barat laut, meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, perairan Selat Sunda bagian selatan, serta kawasan Samudra Hindia di barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
KAI Daop 8 Tambah Perjalanan KA dan Kapasitas Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Di sisi lain, sektor transportasi laut dan layanan penyeberangan dipastikan belum terganggu oleh sebaran abu vulkanik. Kendati demikian, pemerintah memutuskan tidak menambah unit kapal penyeberangan, termasuk di Pelabuhan Bakauheni, lantaran volume mobilitas penumpang justru mengalami tren penurunan pascaerupsi.






