Rangkaian tips investasi dan kiat pengelolaan finansial disampaikan para praktisi serta regulator dalam ajang Lampung Financial Festival 2026 yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Bandar Lampung. Mayoritas peserta yang memadati festival literasi keuangan tersebut merupakan kalangan pelajar sekolah menengah atas dan mahasiswa.
Dalam forum tersebut, regulator dan pelaku industri keuangan membagikan pandangan strategis mengenai pemilihan instrumen investasi yang aman sekaligus pentingnya pengendalian konsumsi di era digital.
Memilih Simpanan dan Memperhatikan Bunga Penjaminan
Regulator perbankan menggarisbawahi pentingnya kehati-hatian masyarakat saat menempatkan dana di bank. Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank LPS, Doddy Zulverdi, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur oleh tawaran bunga simpanan yang terlalu tinggi.
LPS Minta Masyarakat Waspada Tawaran Bunga Deposito Tinggi

Doddy menyarankan masyarakat untuk selalu membandingkan tawaran perbankan dengan tingkat bunga penjaminan LPS yang saat ini berada di level 3,75 persen sebagai indikator keamanan simpanan.
Dari perspektif pemerintah, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, memaparkan beberapa pilihan instrumen yang relatif aman bagi publik. Instrumen tersebut mencakup Surat Berharga Negara (SBN), emas, serta tabungan maupun deposito di bank karena memiliki perlindungan jaminan dari LPS.
Melengkapi pembahasan instrumen fisik, Chief Marketing Officer Raja Emas Indonesia, M. Rahmat, menyatakan bahwa emas tidak hanya berfungsi sebagai sarana investasi pertumbuhan dana, melainkan juga berperan sebagai aset pelindung nilai (safe haven) untuk menjaga stabilitas kekayaan.
42 Jadwal Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Ikut Dibatalkan

Bijak Mengelola Arus Kas di Era Transaksi Digital
Selain pengenalan instrumen, pengelolaan arus kas pribadi menjadi fokus utama yang diarahkan kepada generasi muda. Direktur Finance and Strategy PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Achmad Royadi, menyoroti kemudahan teknologi pembayaran digital yang berpotensi mendorong perilaku konsumtif.
Menurut Achmad, kemudahan transaksi digital kerap membuat kalangan muda lebih gampang membelanjakan uang untuk memenuhi keinginan konsumtif ketimbang kebutuhan pokok. Ia mendorong generasi muda agar secara konsisten membiasakan diri menyisihkan sebagian penghasilan untuk dialokasikan ke tabungan dan investasi.






