Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan dengan erupsi berskala cukup besar sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9). Hembusan abu vulkanik dari gunung berapi di Selat Sunda tersebut menjangkau sejumlah daerah di Pulau Sumatra dan Jawa, bahkan berdampak langsung pada penutupan operasional beberapa bandara.
Menanggapi dampak erupsi tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada dalam menghadapi sebaran abu vulkanik. Arahan Presiden ini disampaikan melalui Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, yang menekankan bahwa perlindungan dan keselamatan warga merupakan prioritas utama pemerintah.
Pemerintah meminta publik untuk menyaring informasi dan hanya merujuk pada sumber-sumber resmi instansi terkait. Bakom secara khusus mengingatkan warga agar tidak mudah terpengaruh dan tidak ikut menyebarkan kabar yang belum terverifikasi kebenarannya, termasuk isu-isu liar mengenai potensi tsunami.
Bandara Soetta Ditutup, KAI Tambah Kereta ke Jakarta

Pantauan Sebaran Abu Vulkanik
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui analisis citra satelit Himawari-9 RGB yang dipadukan dengan data PVMBG serta VAAC Darwin, pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbagi ke dalam dua jalur utama.
Jalur sebaran pertama mengarah dari timur laut ke selatan, melintasi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, beserta area perairan di sekitarnya. Sementara itu, jalur kedua bergerak dari barat daya menuju barat laut, melingkupi wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga kawasan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Kemenhub Siapkan 3 Bandara Alternatif Imbas Penutupan 6 Bandara

Langkah Mitigasi dan Koordinasi Lintas Lembaga
Guna mengantisipasi bahaya kesehatan akibat paparan debu vulkanis, pemerintah menganjurkan masyarakat di wilayah terdampak untuk menerapkan sejumlah prosedur keselamatan harian, antara lain:
- Mengenakan masker penutup hidung dan mulut saat beraktivitas.
- Memakai kacamata pelindung untuk menjaga mata dari iritasi ketika berada di luar ruangan.
- Menutup rapat pintu, jendela, serta tempat penampungan air bersih dari paparan abu.
- Menjaga hidrasi tubuh dengan minum air putih yang cukup.
- Mencuci tangan dan membersihkan wajah sesudah beraktivitas di luar rumah.
Seluruh penanganan dampak erupsi dijalankan melalui koordinasi terpadu satu narasi berbasis data cepat. Komunikasi lintas instansi ini melibatkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, dan lembaga daerah terkait guna memastikan penanganan lapangan berjalan efektif.






