Peluncuran Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) dinilai menjadi momentum strategis dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Pada tahap awal, program ini mencakup 14 proyek dengan total kapasitas mencapai 5.300 MWp. Langkah tersebut menjadi bentuk konkret pemerintah dalam menerjemahkan target swasembada energi melalui pengembangan infrastruktur energi terbarukan berskala masif.
Selain mendorong pemanfaatan energi bersih, inisiatif pengembangan PLTS skala besar ini membuka berbagai peluang strategis bagi sistem ketenagalistrikan nasional. Program ini dapat menekan ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dalam sektor pembangkitan listrik, memperluas akses elektrifikasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta menjamin ketersediaan pasokan listrik hijau untuk mendukung aktivitas industri.
Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, mengingatkan bahwa potensi besar dari program ini membutuhkan perencanaan yang terintegrasi. Menurutnya, pembangunan PLTS harus dirancang sebagai bagian tak terpisahkan dari transformasi sistem kelistrikan secara menyeluruh, bukan sekadar agenda penambahan kapasitas pembangkit semata.
5 Tanda Anda Masuk Golongan Kelas Bawah, Bukan Cuma Gaji Kecil

Saat memberikan keterangan kepada media di Jakarta, Kamis (27/8/2026), Abra menjelaskan bahwa implementasi PLTS skala besar perlu diselaraskan dengan proyeksi pertumbuhan permintaan listrik serta kondisi sistem kelistrikan di masing-masing wilayah. Aspek penting lainnya yang harus diperhatikan mencakup kesiapan jaringan transmisi dan distribusi listrik, serta tahapan penambahan kapasitas pembangkit yang telah diatur dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Di sisi teknis, karakteristik produksi listrik dari PLTS yang bergantung pada kondisi cuaca menuntut penguatan infrastruktur pendukung agar keandalan sistem tetap terjaga. Faktor tersebut dapat diimbangi melalui penguatan jaringan transmisi, interkoneksi antarsistem kelistrikan, digitalisasi jaringan, serta penyediaan fasilitas penyimpanan energi.
Jangan Lupa Serbu Transmart Full Day Sale! Gebyar Diskon 50% + 20%

Sebagai percontohan penerapan sistem yang terintegrasi, rencana pengembangan PLTS berkapasitas 1.000 MWp yang dilengkapi dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 3.300 MWh di Bali diharapkan dapat menjadi salah satu model awal dalam membangun ekosistem energi terbarukan yang andal dan berkelanjutan di Indonesia.






