Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah menyiapkan langkah-langkah antisipasi strategis guna menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat fenomena El Nino pada tahun ini. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa kondisi El Nino 2026 telah berstatus aktif dan diprediksi berpotensi mencapai level yang sangat kuat. Status aktif ini ditetapkan karena suhu permukaan laut di bagian tengah Samudra Pasifik telah mengalami kenaikan lebih dari 0,5 derajat Celsius. Peningkatan suhu tersebut memicu perubahan iklim yang signifikan, di mana sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami musim kemarau yang jauh lebih kering serta berdurasi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Menyikapi potensi tersebut, Faisal telah memaparkan peta jalan mitigasi dan kesiapsiagaan nasional secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Pemaparan ini berlangsung dalam sebuah rapat terbatas yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 28 Juli 2026. Dalam kesempatan itu, BMKG memperkirakan bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 umumnya akan terjadi pada bulan Agustus dengan persentase mencapai 48,84 persen, dan terus berlanjut hingga bulan September pada angka 25,41 persen. Selain dipengaruhi oleh El Nino, kondisi cuaca di Indonesia juga dipengaruhi oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD). Saat ini, IOD masih berada pada fase netral, namun diprediksi akan terus berkembang menuju fase positif pada rentang waktu September hingga Desember 2026.








