Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah kian mengancam kelangsungan hidup satwa liar. Asap pekat yang menyelimuti kawasan Hutan Kota Nyaru Menteng, Palangka Raya, telah menyebabkan 21 ekor orangutan menunjukkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Informasi mengenai memburuknya kondisi kesehatan satwa tersebut disampaikan oleh CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, di Hutan Kota Nyaru Menteng, Palangka Raya, pada Sabtu (5/9/2026). Paparan asap tebal karhutla secara langsung mengganggu saluran pernapasan satwa-satwa yang berada di kawasan konservasi tersebut.
Upaya Evakuasi Satwa Terdampak
Guna mengantisipasi dampak yang lebih buruk, pegiat konservasi bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) terus melakukan operasi penyelamatan di berbagai titik terdampak. Hingga saat ini, tim gabungan telah berhasil mengevakuasi sebanyak lima ekor orangutan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Komisi III Desak Polisi Usut Dalang Dugaan Pendanaan Kerusuhan Demo 27 Agustus

Di antara satwa yang diselamatkan tersebut terdapat pasangan induk dan anak bernama Raya dan Rayu. Keduanya dievakuasi dari kawasan Hutan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada 2 September 2026. Saat ditemukan oleh tim penyelamat, Raya dan Rayu sedang bertahan di atas pohon di tengah kepungan asap tebal, sementara lahan gambut di bawah pohon tempat mereka bernaung sudah dalam kondisi terbakar.
Kesiapan Medis dan Tantangan di Lapangan
Untuk menjamin keselamatan satwa yang diselamatkan, tim evakuasi turut menyertakan dokter hewan lengkap dengan peralatan medis ke lokasi operasi. Langkah ini diambil guna memastikan setiap orangutan yang mengalami gangguan kesehatan atau trauma akibat paparan asap dan kobaran api dapat segera menerima penanganan medis secara intensif.
Elnusa Petrofin Tambah Armada dan Personel untuk Distribusi BBM Makassar

Kendati upaya pertolongan terus dijalankan, operasi penyelamatan kerap menghadapi kendala di lapangan. Berdasarkan keterangan Manajer Program Orangutan Foundation Indonesia (OFI), proses penyelamatan satwa sering kali terhambat akibat keterlambatan laporan dari masyarakat. Dalam beberapa kasus, informasi baru diterima tim penyelamat setelah satwa yang membutuhkan pertolongan berada di tengah permukiman warga selama satu atau dua hari.






