Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, terus menjadi fokus perhatian pemerintah. Untuk memastikan langkah penanganan berjalan dengan cepat dan efektif, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno secara langsung mengunjungi kawasan Gunung Bromo. Kunjungan kerja Menko PMK Pratikno ke wilayah tersebut dilakukan khusus untuk menghadiri dan mengikuti rapat koordinasi terkait percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di area Gunung Bromo.
Dalam penjelasannya pada hari Selasa (11/8/2026), Menko PMK Pratikno mengungkapkan adanya kendala teknis dalam upaya pemadaman, khususnya terkait rencana penerapan teknologi modifikasi cuaca. Operasi modifikasi cuaca (OMC) yang direncanakan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, hingga saat ini belum dapat dilaksanakan. Kendala utama yang dihadapi oleh tim di lapangan adalah tidak adanya awan yang cukup di langit sekitar kawasan Gunung Bromo untuk memicu terjadinya hujan.
Menko PMK Pratikno menegaskan situasi tersebut saat memberikan keterangan mengenai hambatan yang dihadapi dalam proses mitigasi bencana ini. Beliau menyatakan, “Ya problemnya di Bromo OMC sementara ini enggak bisa jalan karena memang tidak ada awan.” Ketiadaan awan potensial ini membuat tim operasi modifikasi cuaca harus menunda pelaksanaan penyemaian di udara sampai kondisi atmosfer di wilayah Bromo memungkinkan dan mendukung untuk memicu curah hujan.
Pemerintah Siapkan Subsidi CNG 3 Kg, Anggaran Lebih Efisien 40 Persen dari LPG

Kendati demikian, pihak berwenang terus memantau perkembangan cuaca di sekitar wilayah Gunung Bromo. Berdasarkan hasil prediksi cuaca dan analisis meteorologi terkini, awan pembawa hujan diperkirakan baru akan mulai muncul di kawasan Gunung Bromo dalam waktu empat hari ke depan. Munculnya awan dalam empat hari ke depan diharapkan dapat membuka peluang bagi tim untuk segera melaksanakan operasi modifikasi cuaca guna membantu proses pemadaman secara menyeluruh di area terdampak.
Meskipun operasi modifikasi cuaca belum dapat berjalan karena kendala awan tersebut, perkembangan positif mulai terlihat dalam upaya pemadaman karhutla di lapangan. Berdasarkan data terbaru, saat ini tercatat masih terdapat dua titik api aktif yang tersisa di kawasan Gunung Bromo. Jumlah titik api aktif ini telah mengalami penurunan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan kondisi pada saat puncak kebakaran yang sempat mencapai hingga 36 titik api.
Tindakan Darurat Saat Menemukan Dugaan Kriminalitas di Lingkungan Kontrakan

Guna mengatasi sisa titik api yang masih aktif dan mengantisipasi kendala belum jalannya operasi modifikasi cuaca, langkah taktis lain segera diambil. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan operasi water bombing atau pengeboman air dari udara. Pengerahan operasi water bombing oleh BNPB ini ditujukan untuk membantu memadamkan sisa-sisa titik api yang masih membakar vegetasi di kawasan Gunung Bromo agar tidak kembali meluas.
Selain mengerahkan bantuan dari udara melalui BNPB, koordinasi di tingkat daerah juga terus diperkuat. Menko PMK Pratikno meminta kepada pemerintah daerah setempat, bersama dengan jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), untuk terus memperkuat kapasitas penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah mereka masing-masing. Sinergi antara pemerintah daerah, TNI, dan Polri diharapkan dapat mempercepat pemadaman total di kawasan Gunung Bromo.






