Persiapan penyediaan energi alternatif untuk kebutuhan masyarakat melalui produk Compressed Natural Gas (CNG) 3 kilogram (kg) terus dimatangkan oleh pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Saat ini, seluruh rangkaian persiapan infrastruktur pendukung serta pengujian teknis keamanan tabung gas alternatif tersebut sudah memasuki tahap pengujian akhir. Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) secara khusus memimpin dan menjalankan uji coba akhir terhadap fisik tabung CNG 3 kg beserta kelengkapan komponen katup (valve) yang terpasang pada tabung.
Proses pengujian teknis yang ketat ini menjadi fondasi utama sebelum pemerintah melangkah ke tahapan berikutnya, yaitu persiapan pelaksanaan uji coba penggunaan secara langsung di tengah masyarakat. Tahap pengujian lapangan di tingkat konsumen ini menjadi langkah penting yang wajib diselesaikan sebelum tabung gas CNG 3 kg tersebut nantinya disalurkan, dipasarkan, dan dikomersialisasi secara luas ke seluruh pasar nasional.
Dalam proses sertifikasi keselamatan fisik tabung gas ini, pihak Lemigas mencatat bahwa saat ini hanya tersisa satu tahapan pengujian yang masih harus diselesaikan, yakni pengujian tembak atau uji ketahanan tabung pada kondisi lingkungan yang ekstrem. Pengujian fisik ekstrem tersebut dilakukan dengan memaparkan tabung CNG 3 kg pada tingkat paparan panas yang sangat tinggi hingga mencapai sekitar 850 derajat Celsius. Ketika dikonfirmasi mengenai lokasi pelaksanaan uji keselamatan ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pengujian tembak terhadap tabung proyek CNG 3 kg ini dilaksanakan di dua negara, yakni di Indonesia dan di China.
Beijing Bersiap Hadapi Hujan Ekstrem, Status Darurat Banjir Tertinggi Ditetapkan

Dari aspek penentuan skema harga dan perlindungan daya beli masyarakat, pemerintah memastikan akan tetap hadir memberikan dukungan pembiayaan melalui subsidi. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan bahwa pemberian subsidi pada CNG 3 kg tetap akan dilaksanakan oleh pemerintah. Langkah intervensi subsidi ini diambil secara khusus agar tingkat harga jual tabung gas CNG 3 kg di tingkat konsumen akhir dapat tetap terjaga dengan kompetitif.
Meskipun alokasi subsidi tetap digelontorkan oleh pemerintah, pihak Kementerian ESDM membeberkan bahwa skema pembiayaan subsidi untuk CNG 3 kg ini jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan alokasi subsidi Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg. Berdasarkan hasil kalkulasi Kementerian ESDM, nilai penghematan anggaran subsidi yang digelontorkan untuk proyek CNG 3 kg ini diperkirakan lebih efisien sebesar 30 persen hingga 40 persen dibandingkan subsidi LPG 3 kg. Selain menawarkan efisiensi dari aspek anggaran negara, pemerintah juga berencana menyetarakan kapasitas pemakaian dari satu tabung CNG dengan satu tabung LPG 3 kg.
Pemerintah Tinjau Pengajuan Perpanjangan Izin Tambang (IUPK) PT Freeport Indonesia

Kendati menawarkan potensi penghematan biaya subsidi hingga 40 persen dan penyetaraan kapasitas daya pakai, kepastian jadwal komersialisasi CNG 3 kg di pasaran masih bergantung pada penyelesaian seluruh tahapan pengujian. Keberhasilan pengujian ketahanan paparan panas 850 derajat Celsius yang difinalisasi oleh Lemigas di Indonesia dan China, serta hasil pelaksanaan uji coba di tingkat masyarakat kelak, akan menjadi tolok ukur utama sebelum gas alternatif ini benar-benar disalurkan secara luas kepada konsumen.






