Peta elektabilitas tokoh nasional mengalami pergeseran signifikan pada pertengahan 2026. Data survei terbaru menunjukkan elektabilitas Prabowo Subianto yang sebelumnya berada di posisi dominan kian merosot, sementara figur Dedi Mulyadi mencatatkan lonjakan popularitas yang konsisten di berbagai simulasi.
Riset nasional Tempo Data Science pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026 merekam elektabilitas Dedi Mulyadi melompat ke angka 42 persen pada simulasi daftar tertutup dan 41 persen pada pertanyaan terbuka (top-of-mind). Pada periode yang sama, elektabilitas Prabowo berada di angka 15 persen, disusul Anies Baswedan dengan 10 persen. Hasil survei SMRC pada Juli 2026 juga mencerminkan pola serupa, di mana Dedi unggul dalam simulasi 20 nama dengan 35 persen suara, mengungguli Prabowo yang berada di angka 14,5 persen.
Perubahan peta elektoral ini berakar pada evaluasi publik terhadap kondisi ekonomi, kepuasan kinerja pemerintahan, serta persepsi atas gaya kepemimpinan kedua tokoh.
Tekanan Ekonomi dan Evaluasi Kinerja Pemerintahan
Faktor utama yang menekan keterpilihan Prabowo berkaitan erat dengan merosotnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap jalannya roda pemerintahan. Berdasarkan riset Tempo Data Science, kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di posisi 37 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut menurun dibandingkan Maret 2026 yang tercatat 58 persen, serta 75 persen pada akhir 2025.
Secara individual, kepuasan terhadap kinerja Prabowo tercatat sebesar 40 persen dengan skor rata-rata 5,8 dari 10. Sementara itu, kepuasan terhadap Gibran tercatat 33 persen dengan skor 5,3 dari 10.
Polisi Ungkap Kasus 5,2 Kg Sabu di Jakbar, 2 Pelaku Ditangkap

Penurunan kepuasan ini berkelindan langsung dengan beban ekonomi yang dirasakan masyarakat. Mayoritas responden, yakni 68 persen, menilai kondisi ekonomi nasional saat ini lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya, berbanding 30 persen yang menilai lebih baik. Tiga persoalan utama yang paling banyak dikeluhkan publik mencakup:
- Mahalnya atau kenaikan harga kebutuhan pokok (36 persen)
- Kondisi ekonomi yang sulit atau menurun (23 persen)
- Minimnya lapangan pekerjaan serta tingginya angka pengangguran (16 persen)
Selain itu, pelaksanaan program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi catatan evaluasi di tingkat penerima manfaat. Survei mencatat 51 persen keluarga penerima menyatakan kurang atau tidak puas (43 persen kurang puas, 8 persen tidak puas sama sekali). Tingkat ketidakpuasan terhadap program ini tampak lebih tinggi di wilayah Banten yang menyentuh 65 persen serta wilayah perkotaan sebesar 53 persen.
Kedekatan Emosional dan Daya Tarik Dedi Mulyadi
Di tengah ketidakpuasan ekonomi tersebut, Dedi Mulyadi hadir sebagai figur alternatif yang mampu menarik pemilih dari berbagai latar belakang. Tren elektabilitas Dedi tercatat naik secara bertahap, mulai dari 19,4 persen pada Desember 2025, menjadi 24,2 persen pada Februari 2026, hingga menembus 42 persen pada Agustus 2026. Sebaliknya, pada rentang waktu yang sama, elektabilitas Prabowo bergerak turun dari 48,2 persen ke 37,6 persen, lalu menjadi 15 persen.
Sebanyak 98 persen responden yang mengenal Dedi menyatakan memiliki kesan positif terhadapnya. Dedi juga menjadi tokoh yang paling banyak disebut secara spontan dalam ingatan publik (top of mind) sebesar 30 persen. Faktor pembeda paling menonjol terletak pada alasan pemilih dalam menyukai kandidat:
- Sebanyak 78 persen pemilih Dedi Mulyadi menyebut kedekatan dan kemampuannya mendengar rakyat sebagai alasan utama.
- Sebanyak 60 persen pemilih Prabowo Subianto mendasarkan pilihannya pada karakter ketegasan.
Data SMRC pada Juli 2026 turut memperlihatkan bahwa Dedi berhasil menjadi wadah artikulasi bagi kelompok yang tidak puas terhadap kondisi perekonomian. Pada segmen pemilih yang menilai ekonomi nasional buruk, dukungan untuk Dedi mencapai 83 persen berbanding 17 persen untuk Prabowo. Pada kelompok yang menilai ekonomi sangat buruk, Dedi memperoleh 73 persen berbanding 27 persen untuk Prabowo. Dalam simulasi head-to-head SMRC, Dedi memimpin dengan perolehan 59 persen berbanding 28,3 persen.
KTT BRICS 2026 Hasilkan Deklarasi New Delhi, Ubah Komitmen Jadi Aksi Nyata

Sebaran Suara Regional dan Dinamika Partai
Lonjakan elektabilitas Dedi ditopang oleh basis pemilih yang solid di Pulau Jawa serta penetrasi kuat di luar Jawa. Dalam temuan regional Tempo Data Science, Dedi membukukan dukungan tinggi di Banten (68 persen), Jawa Barat (65 persen), Kalimantan (54 persen), Jawa Tengah dan Yogyakarta (46 persen), Jakarta (41 persen), Sumatra (39 persen), dan Jawa Timur (30 persen).
Meskipun elektabilitas figur presiden mengalami pergeseran tajam, pilihan terhadap partai politik relatif berbeda. Partai Gerindra tetap menempati posisi teratas dengan elektabilitas 20 persen, disusul PDI Perjuangan (16 persen), Partai Golkar (10 persen), PKB (8 persen), NasDem (5 persen), serta Partai Demokrat (5 persen), dengan 24 persen pemilih belum menentukan pilihan.
Selain itu, pandangan publik terhadap pencalonan keluarga pejabat menunjukkan penerimaan yang cukup tinggi. Sebanyak 65 persen responden menilai langkah tersebut wajar鈥攄engan rincian 47 persen mendasarkannya pada faktor kemampuan kandidat dan 18 persen pada hak politik. Sementara itu, 29 persen responden menganggap hal itu tidak wajar karena mencerminkan politik dinasti.
Kombinasi antara tekanan kebutuhan pokok harian, evaluasi terhadap kebijakan publik, serta preferensi pemilih terhadap pemimpin yang dianggap komunikatif dan dekat dengan masyarakat menjadi pendorong utama meredupnya dukungan terhadap petahana sekaligus melesatnya elektabilitas Dedi Mulyadi.






