Bagi para pelaku pasar modal di Indonesia, pergerakan harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) selalu menjadi sorotan. Pertanyaan yang sering muncul di kalangan investor saat ini adalah: apakah harga saham GOTO di level Rp50 per lembar sudah mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya? Chief Financial Officer (CFO) GoTo, Simon Ho, menyatakan bahwa tingkat harga tersebut saat ini masih undervalued atau berada di bawah nilai fundamental yang sebenarnya. Penilaian ini didasari oleh pencapaian kinerja keuangan terbaru yang menunjukkan tren pemulihan dan profitabilitas yang semakin kuat.
Pada tanggal 31 Juli, GoTo secara resmi mempublikasikan laporan keuangan untuk kuartal kedua tahun 2026. Hasilnya menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam mencetak laba bersih untuk kedua kalinya secara beruntun. Sepanjang kuartal kedua 2026, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar. Pencapaian ini melanjutkan tren positif dari kuartal pertama 2026 yang mencatatkan laba bersih sebesar Rp171 miliar. Jika melihat performa sepanjang semester pertama 2026, GoTo mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp607 miliar. Angka ini membalikkan situasi dari semester pertama tahun 2025, di mana saat itu perusahaan masih mengalami rugi bersih sebesar Rp580 miliar. Pada kuartal pertama 2026 sendiri, laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar Rp258 miliar.
Peningkatan profitabilitas ini didorong oleh pertumbuhan transaksi dan pendapatan yang signifikan. Nilai transaksi kotor atau gross transaction value (GTV) inti grup melonjak sebesar 83% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp164 triliun. Selaras dengan itu, pendapatan bersih kuartalan GoTo tumbuh 31% secara tahunan hingga mencapai Rp5,7 triliun. Untuk keseluruhan semester pertama 2026, total pendapatan bersih perusahaan berhasil menembus Rp10,99 triliun, tumbuh 28,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp8,56 triliun.
Bursa Mineral ICOMEX Bakal Dibentuk Hari Ini, Beroperasi 4 Januari 2027

Pertumbuhan pendapatan semester pertama 2026 ditopang oleh beberapa lini bisnis utama. Pendapatan terbesar disumbang oleh jasa pengiriman yang mencapai Rp3,2 triliun, tumbuh sebesar 16,5%. Lini imbalan jasa berkontribusi sebesar Rp3,15 triliun dengan peningkatan sebesar 14,9%. Selanjutnya, sektor pendapatan pinjaman mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 65% menjadi Rp2,71 triliun. GoTo juga memperoleh sumbangan dari e-commerce service fee PT Tokopedia sebesar Rp551 miliar, yang naik 32,3%. Sebagai informasi, GoTo saat ini memegang kepemilikan saham sebesar 25% di Tokopedia. Selain itu, pendapatan iklan menyumbang Rp254 miliar atau naik 8%, sementara pos pendapatan lain-lain melonjak 46,5% menjadi Rp1,13 triliun.
Dari sisi operasional, GoTo mencatatkan laba usaha sebesar Rp782 miliar pada semester pertama 2026, berbanding terbalik dengan rugi usaha sebesar Rp172 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, EBITDA grup yang disesuaikan melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya, meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu.
Meskipun mencatatkan hasil yang kuat, manajemen GoTo memilih untuk bersikap realistis namun optimistis dalam memandang sisa tahun berjalan. Perusahaan memutuskan untuk tetap mempertahankan pedoman EBITDA grup yang disesuaikan untuk setahun penuh pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Namun, terdapat penyesuaian target pada masing-masing unit bisnis. Pedoman kinerja untuk layanan On-Demand services diturunkan menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun, dari proyeksi awal sebesar Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun. Sebaliknya, target kinerja untuk sektor Fintech dinaikkan dari kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun.
The Fed Naikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Menguat

Kondisi neraca keuangan GoTo juga menunjukkan penguatan. Total aset perusahaan per semester pertama 2026 mengalami kenaikan sebesar 3,8% dibandingkan posisi Desember 2025, menjadi Rp47,47 triliun. Dari jumlah tersebut, posisi kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan tercatat masih sangat kuat, yakni mencapai Rp23 triliun. Untuk mengoptimalkan struktur permodalan dan memberikan nilai lebih kepada pemegang saham, GoTo mengumumkan rencana pengurangan modal melalui pembatalan 32,19 miliar saham treasuri Seri A. Saham-saham tersebut merupakan hasil dari program pembelian kembali (buyback) saham yang dilakukan perusahaan dalam periode transaksi sejak 12 Juni 2024 hingga 11 Juni 2025.
Meskipun manajemen meyakini harga saham saat ini tidak mencerminkan nilai fundamental dan kinerja keuangan menunjukkan perbaikan nyata, keputusan investasi tetap berada di tangan publik. Pasar saham dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk kondisi makroekonomi dan sentimen pasar secara keseluruhan. Evaluasi fundamental secara berkala tetap diperlukan untuk melihat apakah efisiensi dan pertumbuhan ini dapat dipertahankan secara konsisten pada kuartal-kuartal berikutnya.






