Kepolisian Filipina resmi menangkap mantan Ketua DPR Martin Romualdez pada Senin terkait kasus dugaan penjarahan dana negara (plunder) senilai 7,44 miliar peso atau sekitar Rp2,1 triliun.
Surat perintah penangkapan diserahkan langsung oleh aparat saat Romualdez tengah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di kawasan Metro Manila. Ia dirawat akibat masalah kardiovaskular serta kondisi tekanan darah yang tidak stabil.
Menteri Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Jonvic Remulla mengonfirmasi pelaksanaan prosedur hukum tersebut dan menyatakan bahwa ruang gerak serta kebebasan Romualdez kini telah dibatasi. Romualdez dijadwalkan langsung dipindahkan ke fasilitas tahanan segera setelah tim medis menyatakan kondisinya cukup stabil untuk keluar dari rumah sakit.
Pesta Kembang Api Berujung Maut, 10 Orang Tewas Terkena Ledakan

Langkah penahanan ini menyusul dakwaan resmi yang diajukan Kantor Ombudsman Filipina terhadap Romualdez bersama tiga orang lainnya. Pengadilan Antikorupsi Filipina menerbitkan surat perintah penangkapan hanya berselang beberapa jam setelah berkas dakwaan didaftarkan.
Berdasarkan materi dakwaan, dana tersebut diduga mengalir dari sejumlah kontraktor dan entitas yang memiliki kepentingan dalam proyek pengendalian banjir, pembangunan infrastruktur, serta proyek pemerintah lain yang bersumber dari anggaran nasional periode 2022 hingga 2025.
Potret Bencana di RI, Wilayah di Sumatra Ini Dihantam Kebakaran-Banjir

Persoalan proyek infrastruktur pengendalian banjir sebelumnya memicu kekhawatiran publik yang meluas pada paruh kedua tahun 2025. Gelombang demonstrasi besar sempat pecah di Manila dan beberapa kota utama lainnya pada September tahun lalu guna mengecam praktik korupsi para pejabat tinggi negara.
Martin Romualdez memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan Presiden Filipina Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. Ayah Romualdez, Benjamin "Kokoy" Romualdez, merupakan adik kandung dari mantan ibu negara Imelda Marcos, ibu dari Presiden Marcos Jr.






