Ketidakpastian ekonomi global saat ini masih berada pada tingkat yang tinggi dan menjadi perhatian serius bagi banyak negara berkembang. Menghadapi dinamika ekonomi dunia yang terus bergejolak, Bank Indonesia menyatakan bahwa mereka akan tetap bersiaga dan memprioritaskan stabilitas ekonomi nasional. Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa kondisi global yang belum stabil ini merupakan sebuah tantangan nyata yang harus dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi menjadi fokus utama bank sentral pada saat ini. Peringatan mengenai risiko global yang belum reda ini menuntut adanya kewaspadaan penuh dari otoritas moneter di dalam negeri.
Pernyataan mengenai tingginya ketidakpastian ekonomi global tersebut disampaikan oleh Destry Damayanti secara daring dalam sebuah acara bertajuk Editor Briefing. Acara pengarahan bagi para editor ini diselenggarakan di Parapat pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Dalam kesempatan penting tersebut, ia secara khusus menyoroti kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau yang sering disebut The Fed. Berdasarkan hasil rapat Federal Open Market Committee yang digelar beberapa hari sebelumnya, The Federal Reserve memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuannya. Meskipun tidak ada perubahan atau langkah untuk menaikkan maupun menurunkan suku bunga, kebijakan penahanan ini memberikan sinyal kuat kepada pasar keuangan internasional mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depannya.
Keputusan The Federal Reserve untuk menahan suku bunga acuan yang saat ini berada di kisaran 3,50% hingga 3,75% tidak lepas dari kondisi perekonomian Amerika Serikat. Destry Damayanti menilai bahwa pernyataan dari Ketua The Federal Reserve menunjukkan bahwa ekonomi Amerika Serikat masih berada dalam kondisi yang cukup kuat. Situasi makroekonomi yang tangguh di negara maju tersebut pada akhirnya membuat para pelaku pasar memproyeksikan bahwa era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Proyeksi pasar mengenai situasi yang kerap disebut sebagai higher for longer ini menjadi indikator penting bahwa era uang ketat belum akan berakhir dalam waktu dekat. Fenomena higher for longer ini tidak hanya tercermin pada tingkat suku bunga acuan bank sentral, tetapi juga pada indikator keuangan lainnya.
Lima Tahun Holding UMi, BRI Catat 2,3 Juta Debitur Naik Kelas

Lebih lanjut, Destry Damayanti merinci bahwa kondisi higher for longer yang dihadapi oleh perekonomian global juga dapat dilihat dari pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah di negara tersebut masih menunjukkan tren yang tinggi, sejalan dengan tingkat inflasi di Amerika Serikat yang juga masih relatif tinggi dan belum sepenuhnya turun ke level sasaran. Artinya, perekonomian global secara keseluruhan sedang berhadapan dengan sebuah situasi di mana berbagai instrumen keuangan dan indikator makroekonomi utama berada pada posisi yang serba tinggi. Tingginya suku bunga, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah, serta tingginya tingkat inflasi global merupakan kombinasi yang secara langsung memberikan tekanan rambatan kepada pasar keuangan di negara-negara berkembang.
Di samping faktor kebijakan moneter Amerika Serikat, ketidakpastian global juga diperparah oleh berbagai konflik internasional yang belum menemukan titik penyelesaian. Konflik-konflik antarnegara yang masih terus berlangsung ini mengakibatkan terjadinya gangguan yang signifikan pada rantai pasok dan distribusi barang-barang di tingkat global. Dampak langsung dari terganggunya arus barang tersebut adalah melonjaknya harga komoditas energi, di mana harga minyak dunia terus bertahan di level yang tinggi. Tingginya harga minyak ini pada gilirannya memicu lonjakan inflasi di berbagai negara. Rentetan peristiwa global mulai dari konflik, gangguan pasokan, hingga tingginya harga energi dan inflasi ini dipastikan akan membawa dampak lanjutan bagi perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, Bank Indonesia dan pemerintah dituntut untuk terus menyesuaikan kebijakan agar mampu meredam dampak negatif dari luar negeri.
Di KTT BRICS, Prabowo Paparkan Potensi Mineral dan Ketahanan Iklim RI

Sebagai respons terhadap situasi higher for longer dan rentetan tekanan global tersebut, Bank Indonesia telah merumuskan langkah-langkah mitigasi yang berfokus pada ketahanan ekonomi domestik. Destry Damayanti menegaskan bahwa tantangan utama bagi Bank Indonesia dalam jangka pendek adalah memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah gejolak pasar global yang dinamis. Selain menjaga stabilitas nilai tukar mata uang Garuda, Bank Indonesia juga memiliki tugas berat untuk sekaligus mengendalikan tingkat inflasi domestik agar tidak terimbas oleh lonjakan inflasi global. Upaya menjaga stabilitas ganda, yakni nilai tukar rupiah dan inflasi, menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar agar momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dapat dipertahankan meskipun kondisi eksternal masih dipenuhi oleh ketidakpastian yang sangat tinggi.






