PT Krakatau Steel (Persero) Tbk terus mendorong generasi muda untuk memahami pentingnya peran logistik dalam rantai pasok dan pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah edukasi ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, dalam kegiatan Krakatau Steel Goes to Campus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Kota Serang, Senin (24/8/2026).
Akbar menjelaskan bahwa aktivitas logistik tidak hanya terbatas pada perpindahan barang secara fisik. Lebih dari itu, logistik merupakan bagian penting dari rantai pasok yang menciptakan nilai tambah, menggerakkan roda perekonomian, serta memengaruhi pembentukan harga produk dan jasa di pasar.
Menurut Akbar, yang juga menjabat sebagai Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) sekaligus Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), sektor industri baja memiliki efek domino yang signifikan terhadap perekonomian. Keberlangsungan industri ini secara langsung melibatkan berbagai lini pendukung, mulai dari jasa transportasi, operasional kepelabuhanan, jaringan vendor, hingga penyerapan tenaga kerja.
Merek Besar AS Mulai Redup di China, Nike hingga Ford Tak Selaris Dulu

Rektor Untirta Fatah Sulaiman menyambut positif inisiatif tersebut. Kehadiran praktisi industri dinilai memberikan tambahan wawasan langsung bagi para mahasiswa mengenai dinamika industri manufaktur dan manajemen logistik di lapangan.
Komitmen Distribusi dan Efisiensi Logistik
Selain memberikan edukasi, Krakatau Steel Group memperkuat tata kelola distribusi barang dengan menyatakan komitmen mendukung kebijakan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) 2027. Perusahaan memastikan seluruh proses pengangkutan produk baja menggunakan armada dan sarana transportasi yang sesuai dengan kapasitas serta regulasi yang berlaku demi keselamatan jalur logistik nasional.
Unggul di Layanan Transaksi Elektronik, BRI Raih Delapan Penghargaan di PRIMA Awards 2026

Krakatau Steel juga memperluas alternatif konektivitas rantai pasok melalui pengembangan layanan Ro-Ro Vessel dari Pelabuhan Cigading menuju Pelabuhan Panjang di Bandar Lampung. Langkah integrasi jalur laut ini disiapkan untuk mengoptimalkan efisiensi distribusi barang antarpulau, dengan potensi penghematan biaya logistik diperkirakan mencapai 10 hingga 12 persen.






