Penyediaan akses energi bersih di wilayah pedesaan Indonesia sering kali menghadapi tantangan keberlanjutan operasional setelah infrastruktur selesai dibangun. Di sinilah pentingnya peran para pengelola lokal, atau yang kerap disebut sebagai "local hero". Keberadaan sosok-sosok ini menjadi jembatan krusial antara teknologi energi terbarukan yang dipasang dan kebutuhan harian masyarakat setempat. Melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) yang diinisiasi oleh PT Pertamina (Persero), para pengelola lokal ini dibekali keahlian teknis agar fasilitas pembangkit listrik tidak sekadar menjadi sarana fisik saja, melainkan terus memberikan manfaat nyata bagi komunitas.
Dua sosok yang menggambarkan kontribusi nyata ini adalah Alfredo Nicholas Saputra Kolin di Indonesia Timur dan Burhanudin di Nusa Tenggara Barat. Alfredo, seorang warga Kampung Posa, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, memikul tanggung jawab memantau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 3,3 kWp. Energi yang dihasilkan dari panel surya tersebut disalurkan untuk mengoperasikan sistem Solar Water Treatment, yang menjadi andalan warga Kampung Posa dalam mendapatkan pasokan air bersih secara berkelanjutan. Di lokasi lain, tepatnya di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Burhanudin bertindak sebagai pengelola sekaligus penjaga operasional PLTS berkapasitas 6,6 kWp. Di desa ini, energi bersih tidak hanya menerangi pemukiman, tetapi langsung menggerakkan mesin produksi Virgin Coconut Oil (VCO) berkapasitas 5.500 watt untuk mendorong perekonomian warga.
Upaya menjaga keberlangsungan pembangkit listrik ini kini melangkah ke ranah profesional melalui sertifikasi kompetensi. Selama ini, para penjaga pembangkit di tingkat desa bekerja dengan pengetahuan praktis yang terbatas. Untuk menjembatani celah keterampilan tersebut, Pertamina memfasilitasi sertifikasi kompetensi bagi 21 pengelola lokal pada tanggal 5 hingga 7 Agustus 2026. Kegiatan sertifikasi ini diselenggarakan di Balkondes Wringin Putih, Borobudur, Magelang, yang juga merupakan salah satu lokasi Desa Energi Berdikari. Melalui proses uji kompetensi ini, para peserta yang dinyatakan kompeten berhak menerima Sertifikat Junior Operator PLTS resmi yang diterbitkan oleh PPSDM KEBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dengan adanya sertifikasi ini, total pengelola lokal yang telah tersertifikasi kini mencapai 128 orang di seluruh Indonesia.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Jika ditinjau dari skala yang lebih luas, program penguatan kapasitas ini merupakan bagian integral dari pencapaian Program Desa Energi Berdikari yang telah menjangkau 262 desa di berbagai pelosok nusantara. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik, tetapi juga mengintegrasikan berbagai sumber energi terbarukan yang disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing. Pembangkit yang dibangun meliputi sistem tenaga surya, mikrohidro, hingga sistem hibrida surya-angin, dengan total kapasitas energi terbarukan yang dihasilkan mencapai 1.302.700 Wp. Selain listrik, program ini juga berhasil memproduksi 959.302 meter kubik biogas dan metana, yang menjadi alternatif bahan bakar ramah lingkungan bagi rumah tangga di pedesaan.
Dampak ekonomi dan sosial dari kemandirian energi ini pun mulai terlihat jelas secara nasional. Berdasarkan data evaluasi program, inisiatif Desa Energi Berdikari telah menciptakan nilai ekonomi hingga Rp 5,65 miliar per tahun bagi komunitas lokal. Pemanfaatan energi bersih ini telah dirasakan manfaatnya oleh 283.841 jiwa di berbagai wilayah, termasuk di antaranya 62 penyandang disabilitas yang kini mendapatkan akses kehidupan yang lebih baik. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengindikasikan bahwa penguatan kapasitas masyarakat lokal ini sangat krusial untuk memastikan keberlanjutan program jangka panjang.
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Secara makro, keberhasilan program ini sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Pemerintah. Melalui penyediaan energi terdesentralisasi yang dikelola langsung oleh masyarakat, program ini berkontribusi aktif terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Beberapa target utama yang disasar meliputi Tujuan 4 mengenai Pendidikan Berkualitas, Tujuan 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, Tujuan 8 terkait Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, Tujuan 11 untuk Kota dan Permukiman Berkelanjutan, serta Tujuan 13 yang berfokus pada Penanganan Perubahan Iklim. Melalui kolaborasi antara korporasi, pemerintah melalui Kementerian ESDM, dan para penjaga energi di tingkat tapak, kemandirian energi di tingkat desa diharapkan dapat terus dirawat secara berkelanjutan.






