Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026. Langkah ini diambil guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memitigasi dampak ketidakpastian pasar keuangan global yang belum mereda.
Keputusan menahan suku bunga acuan tersebut melanjutkan penyesuaian moneter sebelumnya, setelah bank sentral menaikkan BI-Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei hingga Juni 2026. Kenaikan terdahulu tersebut dipersiapkan untuk mengantisipasi ekspektasi pengetatan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sebesar 25 basis poin pada kuartal IV-2026.
Pertimbangan Bank Sentral dan Tekanan Global
Penjabat Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa arah kebijakan moneter saat ini tetap difokuskan pada penguatan stabilitas rupiah. Tekanan global masih berlanjut seiring tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia melampaui US$90 per barel.
Bank Perluas Transformasi Bisnis Biar Makin Dekat dengan Nasabah Lewat Ekosistem Kopi

Selain itu, kebutuhan Amerika Serikat untuk membiayai defisit anggaran mendorong peningkatan penerbitan surat utang negara tersebut. Kondisi ini mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mempertahankan suku bunga global pada posisi tinggi (higher for longer).
Kendati demikian, ketahanan ekonomi domestik dinilai masih solid. Inflasi tahunan nasional telah kembali terkendali di bawah 3%, sejalan dengan sasaran inflasi BI untuk periode 2026/2027 di rentang 2,5% plus minus 1%. Kinerja fiskal pada semester I-2026 tercatat aman, sementara aliran modal asing yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai US$1,8 miliar pada Agustus 2026.
Pandangan Ekonom dan Bauran Kebijakan Pendukung
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75% hingga akhir 2026. Namun, ruang penyesuaian suku bunga acuan dinilai tetap terbuka apabila rambatan risiko global memburuk akibat lonjakan inflasi dunia dan tekanan nilai tukar yang meningkat.
BNI Gelar Lelang rejeki wondr Setiap Hari di wondrX 2026

Untuk memperkuat transmisi moneter tanpa semata bertumpu pada suku bunga, bank sentral memperluas insentif swap lindung nilai. Diskon premi sebesar 12,5% pada transaksi Swap Jual Lindung Nilai kini mencakup pinjaman luar negeri perbankan serta investasi langsung asing (FDI) yang masuk sejak 1 Juli 2026, yang mulai berlaku efektif pada pekan kedua September 2026.
Di sisi intermediasi perbankan, Bank Indonesia tetap mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong penyaluran kredit dan mempercepat penurunan suku bunga pinjaman di sektor riil.






