Perusahaan jasa keuangan global J.P. Morgan memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menembus level 7.000 pada akhir 2026. Target tersebut dipatok di tengah kondisi pasar modal domestik yang sebelumnya tertekan aksi jual investor asing serta tingginya posisi kas pemodal institusi lokal.
Head of Indonesia Equity Research J.P. Morgan Benny Kurniawan menyatakan bahwa optimisme ini didorong oleh potensi pemulihan sentimen pasar. Target IHSG pada Desember tetap diproyeksikan berada di level 7.000, meskipun dinamika pasar global sempat membebani pergerakan saham di dalam negeri.
Tekanan terhadap IHSG belakangan ini mayoritas bersumber dari faktor eksternal. Kenaikan harga minyak, tingkat suku bunga yang masih tinggi, hingga peningkatan imbal hasil obligasi negara maju sempat mengurangi daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor global. Kondisi tersebut memicu aksi jual dari investor asing, sementara reksa dana saham domestik cenderung menahan likuiditas dengan posisi kas yang relatif tinggi.
Dirut Bulog dan Menko Pangan Jamin Bantuan Beras Capai Indonesia Timur

Memasuki periode berikutnya, prospek fundamental emiten diperkirakan membaik. Konsensus analis memperkirakan pertumbuhan laba bersih emiten berada di kisaran 9 persen pada 2027, didorong oleh realisasi belanja pemerintah dan peningkatan arus investasi.
Selain faktor makroekonomi, J.P. Morgan menyoroti rencana pembukaan batas harga minimum saham hingga Rp1. Penghapusan batas bawah (floor price) Rp50 dinilai berpotensi meningkatkan transparansi serta likuiditas transaksi, alih-alih mengubah bursa domestik menjadi pasar penny stocks seperti di Amerika Serikat. Mekanisme pasar negosiasi atau over-the-counter (OTC) pun tetap tersedia bagi para pelaku pasar.
Incar Swasembada, Prabowo Ajak Rusia Garap Sektor Energi RI

Langkah penyesuaian batas harga tersebut juga dipandang dapat menjawab kendala teknis yang sempat dihadapi penyedia indeks global seperti MSCI. Selama ini, MSCI mengalami kesulitan mereplikasi indeks secara optimal saat penambahan atau penghapusan saham pada tanggal rebalancing akibat adanya batas harga bawah. Pasar modal luar negeri pada umumnya tidak menerapkan floor price sehingga pergerakan harga sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.






