Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings menilai pertumbuhan kredit PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sepanjang 2026 berpeluang melampaui estimasi awal. Prospek positif tersebut ditopang oleh pemulihan di segmen mikro serta laju ekspansi penyaluran pinjaman korporasi, khususnya ke badan usaha milik negara (BUMN).
Dalam laporan bertanggal 8 September 2026, S&P mencatat manajemen BRI telah merevisi naik panduan pertumbuhan kredit tahun 2026 menjadi 8% hingga 10%, dari target sebelumnya di kisaran 7% hingga 9%.
Optimisme tersebut berkaca pada kinerja semester I-2026. Penyaluran kredit BRI tercatat tumbuh 16,2% secara tahunan (year on year/yoy), mengungguli rata-rata industri perbankan nasional yang berada di level 12,7%. Motor penggerak utama pertumbuhan tersebut adalah kredit korporasi yang melonjak 47,1%, dengan porsi terbesar disalurkan ke segmen BUMN.
IHSG Dibuka Menguat 0,22% Tembus Level Psikologis 6.700

Perbaikan Kualitas Aset Mikro dan Efisiensi
Kinerja segmen mikro BRI juga menunjukkan tren pemulihan setelah sempat melambat dalam beberapa kuartal sebelumnya. Langkah manajemen memperketat proses analisis kelayakan (underwriting) dan mempercepat penghapusbukuan (write-off) kredit bermasalah mulai membuahkan hasil.
Perbaikan kualitas kredit terlihat dari rasio kredit berisiko (loans at risk) yang turun menjadi 9,1% per akhir Juni 2026, lebih baik dibandingkan posisi akhir 2025 di level 9,6%. Penurunan risiko kredit mikro didorong penerapan mitigasi yang lebih ketat, mencakup inspeksi langsung ke lokasi usaha debitur (on-site inspection), penerapan model petugas khusus (specialized officer model) sepanjang siklus kredit, serta penguatan penagihan lapangan.
Di segmen korporasi, portofolio BRI perlahan bergeser ke sektor swasta yang kini menguasai 57% dari total kredit korporasi. Pergeseran komposisi ini diproyeksikan dapat memperkuat margin profitabilitas perseroan ke depan.
Wow! 38 Ribu Emak-Emak RI Pegang Surat Utang Ritel Negara

Efisiensi operasional emiten bersandi BBRI ini pun tercatat membaik. Rasio beban terhadap pendapatan (cost-to-income ratio) turun ke posisi 43,7% per akhir Juni 2026, dari 47,9% pada 2025. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal inti (Tier 1) bertengger di level 20,4%.
Seiring fundamental tersebut, S&P mempertahankan peringkat utang jangka panjang BRI di level BBB dan jangka pendek di level A-2 dengan prospek stabil. Peringkat ini sejajar dengan peringkat kedaulatan (sovereign credit rating) Republik Indonesia di level BBB/Stable/A-2, setelah sebelumnya peringkat perseroan dinaikkan dari BBB-/Stable/A-3 pada 18 Januari 2024.






