PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA buka suara menanggapi sorotan Badan Pengaturan (BP) BUMN mengenai kondisi keuangan perseroan yang dinilai bermasalah. Menghadapi situasi tersebut, badan usaha milik negara (BUMN) di bidang manufaktur sarana perkeretaapian ini menyatakan bakal mempercepat langkah transformasi dan pembenahan demi memperkuat fundamental serta keberlanjutan bisnis.
General Manager Corporate Secretary PT INKA Bambang Sutrisno menyatakan bahwa masukan dan arahan dari BP BUMN menjadi momentum penting bagi perseroan untuk melakukan perbaikan menyeluruh, mulai dari pembenahan proses internal hingga peningkatan efektivitas penyelesaian proyek.
"Fokus kami adalah membangun fundamental perusahaan yang lebih sehat, proses bisnis yang semakin efektif, serta kemampuan yang semakin kuat dalam menjalankan dan menyelesaikan setiap proyek," kata Bambang.
Harga Minyak Akhirnya Turun ke US$107 Ditekan Melimpahnya Cadangan AS

Bambang menjelaskan, pembenahan difokuskan pada penguatan keterkaitan antartahapan operasional, mencakup perencanaan, tata kelola kontrak, eksekusi lapangan, proses manufaktur, hingga serah terima unit kepada pelanggan. Sejalan dengan agenda operasional tersebut, manajemen INKA juga terus mengambil langkah perbaikan terhadap kondisi likuiditas dan struktur keuangan perusahaan.
Menurutnya, kedisiplinan dalam pengelolaan proyek memegang peranan krusial dalam mendongkrak kinerja. Hal ini meliputi pengetatan pengendalian jadwal, efisiensi biaya, mitigasi risiko kerja, dan ketepatan pemenuhan komitmen kontrak. INKA juga memperkuat sistem kendali kualitas guna memastikan seluruh armada kereta yang diproduksi memenuhi tolok ukur keselamatan, keandalan, dan standar teknis yang diwajibkan.
Transformasi ini sekaligus diarahkan untuk menjaga dan merawat kapabilitas industri perkeretaapian nasional, mulai dari keahlian teknis rekayasa (engineering), kapasitas pabrikasi, kesiapan tenaga kerja terampil, adopsi teknologi, hingga ekosistem industri pendukung di dalam negeri.
25 Merek Ditarik, Ini Cara Bedakan Beras Fortifikasi Asli atau Oplosan

Sebelumnya, Kepala BP BUMN yang juga menjabat sebagai COO BPI Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkap kondisi keuangan INKA sedang tidak sehat. Dony membeberkan bahwa perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp677 miliar, posisi ekuitas yang negatif, serta beban pinjaman yang dinilai tidak berkelanjutan (unsustainable loan) senilai kurang lebih Rp4,7 triliun.
Dony menyayangkan catatan finansial tersebut lantaran INKA merupakan industri manufaktur yang semestinya memiliki pasar dan basis pelanggan yang terukur jelas. BPI Danantara Indonesia kini mendorong pelaksanaan proses pemulihan (turnaround) terhadap kinerja INKA secara menyeluruh, yang ditekankan memerlukan komitmen kuat bersama penerapan tata kelola perusahaan yang tepat.






