Peristiwa kebakaran hebat yang menimpa KM Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, menyisakan kecemasan mendalam bagi keluarga penumpang. Kapal yang melayani rute Surabaya menuju Makassar ini dilaporkan mengangkut sekitar 250 orang penumpang saat kecelakaan terjadi. Berbagai kendala di lapangan, mulai dari masalah manifes penumpang hingga putusnya komunikasi, membuat kerabat korban harus menunggu dengan penuh harap dan cemas demi mendapatkan kepastian nasib anggota keluarga mereka. Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang sering diajukan terkait informasi terkini insiden tersebut.
Bagaimana kronologi awal terdeteksinya kebakaran pada KM Mutiara Sentosa 2?
Kebakaran diperkirakan mulai terjadi di ujung utara Madura pada kisaran pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Hal ini didasarkan pada laporan terakhir dari nakhoda kapal sebelum akhirnya komunikasi terputus. Kantor SAR Surabaya baru menerima informasi awal mengenai insiden ini dari Syahbandar Tanjung Perak pada pukul 08.24 WIB. Berselang satu menit kemudian, operator kapal yaitu PT Atosim Lampung Pelayaran memberikan konfirmasi resmi mengenai kebakaran tersebut kepada petugas siaga. Pada pukul 09.45 WIB, hasil komunikasi antara SROP dan kapal Meratus Project 3 memastikan posisi KM Mutiara Sentosa 2 berada di koordinat 19 mil laut di sebelah utara Pulau Buruan, Sapudi. Saat itu, kondisi kapal dilaporkan hampir terbakar habis, dengan para penumpang yang tersisa berkumpul menyelamatkan diri di bagian anjungan dan haluan kapal.
Berapa jumlah korban yang telah berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat?
Polres Sumba Barat Ungkap Jaringan Pencurian Ternak, 3 Tersangka Ditangkap

Berdasarkan data yang dirilis oleh Basarnas hingga hari Minggu pukul 21.00 WIB, total penumpang KM Mutiara Sentosa 2 yang telah dievakuasi berjumlah 236 orang. Dari jumlah keseluruhan tersebut, sebanyak 231 orang dinyatakan selamat, sementara lima orang lainnya dilaporkan meninggal dunia. Pada perkembangan selanjutnya, yakni pada Senin (3/8) dini hari, rombongan yang terdiri dari 111 penumpang telah tiba dengan selamat di Pelabuhan Tanjung Perak. Mereka dievakuasi menggunakan kapal bantuan Meratus Pematang Siantar. Di antara penumpang yang tiba di pelabuhan tersebut, terdapat beberapa warga lanjut usia yang membutuhkan bantuan kursi roda untuk turun dari kapal.
Mengapa sebagian keluarga korban mengalami kesulitan dalam mencari informasi penumpang?
Kesulitan pencarian informasi ini salah satunya dipicu oleh munculnya dugaan bahwa sejumlah penumpang tidak tercatat di dalam manifes resmi kapal. Sebagai contoh, seorang warga Makassar bernama Samparia mengaku kesulitan mencari kejelasan informasi karena nama kerabatnya disebut tidak tercantum dalam manifes penumpang. Kendala serupa juga dihadapi oleh Susilo, pemilik perusahaan ekspedisi di Pelabuhan Tanjung Perak. Ia menunggu kabar dari lima pegawainya yang ditugaskan mengawal pengiriman hewan ternak berupa kuda dan kambing di dalam kapal tersebut. Dari kelima pegawainya, empat orang telah dinyatakan selamat, namun satu orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya hingga proses evakuasi berlangsung.
Bagaimana kisah keluarga yang kehilangan kontak secara mendadak dengan penumpang kapal?
Kebakaran 26 Gudang di Kosambi Tangerang Meluas, Api Masih Berkobar

Kecemasan mendalam turut dirasakan oleh Devi, seorang warga Gresik. Suaminya yang bernama Deni Vristiawan, pria berusia 39 tahun, merupakan seorang sopir tronton yang sedang melakukan perjalanan menuju Sulawesi menggunakan kapal tersebut. Devi terakhir kali berkomunikasi melalui telepon dengan suaminya pada pukul 07.00 pagi sebelum insiden kebakaran dilaporkan meluas. Setelah panggilan tersebut, ia tidak dapat lagi menghubungi suaminya. Devi mengaku baru mengetahui bahwa suaminya menjadi salah satu penumpang di kapal yang mengalami musibah tersebut setelah melihat siaran langsung di media sosial sekitar pukul 11.30 WIB.
Langkah apa yang dilakukan petugas untuk mendata para korban yang tiba di pelabuhan?
Untuk memastikan identitas dan kondisi kesehatan para korban yang telah dievakuasi, petugas di Pelabuhan Tanjung Perak langsung melakukan pendataan terpadu sesampainya para penumpang di darat. Proses pendataan ini sebagian dilakukan melalui posko Ante Mortem yang didirikan oleh Biddokkes Polda Jatim. Pendataan ini menjadi langkah yang sangat krusial mengingat adanya perbedaan data manifes di lapangan. Selain itu, posko tersebut juga berperan penting dalam membantu keluarga korban untuk mencocokkan informasi anggota keluarga mereka yang masih belum ditemukan atau belum terdata secara resmi oleh pihak berwenang.






