Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mulai menyusun rangkuman komitmen dan hasil pembahasan dari forum IndoEBTKE ConEx 2026 untuk diserahkan sebagai rekomendasi kebijakan kepada pemerintah. Usulan tersebut difokuskan pada percepatan implementasi energi baru dan terbarukan (EBT) serta penyempurnaan regulasi pendukungnya.
Ketua Umum METI Norman Ginting menyampaikan bahwa perumusan rekomendasi ini merupakan tindak lanjut dari perhelatan tiga hari yang berlangsung pada 2–4 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Agenda pembahasan mencakup sejumlah target strategis nasional, seperti pencapaian kapasitas pembangkit 100 GW, pemanfaatan bahan bakar nabati B50 dan etanol E20, tata kelola ekonomi karbon, hingga teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy).
Menurut Norman, kepastian regulasi dan arah kebijakan yang terstruktur akan menjadi pendorong kuat bagi masuknya investasi di sektor energi bersih. Masuknya modal tersebut diproyeksikan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membuka lapangan kerja hijau (green jobs) secara luas.
Riuh Suara Dentuman di Bandung, Jendela-Pintu Sampai Bergetar

Penandatanganan 16 Kerja Sama dan Sorotan Infrastruktur
Selama tiga hari pelaksanaan, IndoEBTKE ConEx 2026 mencatat partisipasi lebih dari 7.000 orang. Wakil Ketua Umum METI Hokkop Satungkir menjelaskan bahwa jumlah tersebut terdiri atas sekitar 1.785 delegasi konferensi dan lebih dari 5.000 pengunjung pameran. Kegiatan ini menghadirkan lebih dari 110 pembicara nasional maupun internasional, 20 sesi diskusi strategis, serta 22 eksibitor industri.
Forum tahunan ini turut menghasilkan 16 penandatanganan kerja sama strategis. Kesepakatan tersebut mencakup pengembangan EBT, program LTS 100 GW, sektor bioenergi dan biofuel, produksi hidrogen hijau berbasis biomassa, inisiatif konservasi energi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hingga skema pembiayaan berkelanjutan.
Kemenaker Usut Dugaan Pemotongan Uang Saku Peserta MagangHub hingga 80 Persen

Pada hari terakhir, pembahasan difokuskan pada penguatan kesiapan infrastruktur pendukung transisi energi. Isu yang diangkat meliputi implementasi sistem penyimpanan energi baterai (battery energy storage system), pengembangan smart grid dan green super grid, pengolahan waste-to-energy, serta penguatan akses pendanaan bagi proyek-proyek energi bersih.






