Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada perdagangan sesi I Selasa (15/9/2026). Indeks komposit ditutup melemah 49,77 poin atau 0,76% ke level 6.484,92, setelah sempat bergerak fluktuatif di rentang 6.461,01 hingga 6.549,60.
Berdasarkan data Stockbit hingga akhir sesi pertama, total volume perdagangan saham di bursa mencapai 167,54 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp7,16 triliun melalui frekuensi sekitar 1,06 juta kali. Aktivitas di pasar reguler menyumbang 158,62 juta lot senilai Rp6,20 triliun dari 1,06 juta transaksi. Sementara itu, pasar negosiasi mencatatkan transaksi sebesar 8,93 juta lot senilai Rp956,21 miliar dari 196 kali transaksi, dan pasar tunai membukukan volume 350 lot dengan nilai Rp9,01 juta dari 5 transaksi. Pergerakan pasar secara keseluruhan mencatat 333 saham menguat, 317 saham melemah, dan 313 saham bergerak mendatar.
Sektor Keuangan dan Energi Jadi Pemberat
Data Refinitiv menunjukkan bahwa pelemahan IHSG dipicu oleh koreksi sejumlah sektor utama. Sektor keuangan menjadi beban terberat dengan penurunan 1,49%, disusul oleh pelemahan sektor energi sebesar 1,40% serta sektor utilitas yang terkoreksi 0,75%.
Bos Summarecon Terjaring OTT KPK di Kementerian ATR/BPN, Puluhan Koper Uang Diamankan

Secara individual, saham-saham yang menjadi pemberat gerak indeks meliputi PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI), PT Himalaya Energi Perkasa Tbk (HADE), PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK), PT Fortune Indonesia Tbk (FORU), dan PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK). Di sisi lain, laju penurunan IHSG tertahan oleh penguatan sejumlah saham penopang, seperti PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI), PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI), PT Transkon Jaya Tbk (TRJA), PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), serta PT Semacom Integrated Tbk (SEMA).
Tensi Geopolitik dan Antisipasi Rapat The Fed
Pelemahan indeks tidak terlepas dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari kawasan Timur Tengah, eskalasi konflik kembali membayangi pasar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9/2026), menyusul gangguan pada jalur pipa minyak East-West. Kondisi ini diperberat oleh penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung di tengah kebuntuan upaya diplomasi.
Ketegangan tersebut memicu lonjakan harga komoditas energi pada perdagangan Senin. Kontrak minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 1,24% menjadi US$102,65 per barel, sedangkan patokan Brent menguat 1,18% ke level US$106,93 per barel.
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.042,91 T pada Juli 2026

Pelaku pasar juga mengantisipasi keputusan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) melalui rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September. Merujuk kalkulasi CME FedWatch, terdapat probabilitas sebesar 92,4% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75%–4,00%. Terkait dinamika moneter global tersebut, Bank Indonesia telah mengingatkan bahwa tren suku bunga tinggi dalam periode lebih lama (higher for longer) tetap menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian negara berkembang.
Sementara itu dari dalam negeri, perhatian investor terarah pada transisi jabatan Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara. Usai dilantik pada Senin (14/9/2026), Suahasil menegaskan komitmen untuk menjaga kredibilitas dan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk mempertahankan defisit fiskal tetap di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).






