Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. Menjelang pengumuman penting dari MSCI, indeks saham domestik ditutup menguat 1,69 persen dan berada di level 6.373,85. Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau ramai dengan total nilai transaksi mencapai Rp17,38 triliun. Volume perdagangan menyentuh angka 34,46 miliar saham melalui 2,09 juta kali transaksi. Sepanjang hari, pergerakan indeks berada di zona hijau dengan rentang level terendah 6.272 hingga level tertinggi 6.373.
Kenaikan tajam ini sejalan dengan pergerakan mayoritas saham di pasar modal. Tercatat 452 saham mengalami penguatan, 175 saham melemah, dan 168 saham stagnan. Sektor properti menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kontraksi pada hari tersebut. Saham-saham milik Prajogo Pangestu di bawah naungan Grup Barito menjadi salah satu pendorong utama penguatan indeks, khususnya melalui pergerakan saham BREN, BRPT, dan CUAN. Selain itu, sejumlah saham lain seperti DCII, AMMN, ISAT, BRMS, DSSA, VKTR, dan BBCA turut memberikan dorongan positif. Adapun emiten yang paling aktif ditransaksikan meliputi CUAN, TPIA, DSSA, PTRO, dan BMRI.
Danantara Dorong Adhi Karya Selesaikan Persoalan dan Keluhan Penghuni LRT City

Sentimen positif di pasar saham dalam negeri terjadi di tengah penantian para pelaku pasar terhadap dua agenda penting pada 12 Agustus 2026, yakni rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan peninjauan indeks MSCI. Proyeksi pasar menunjukkan inflasi tahunan AS untuk bulan Juli diperkirakan melandai ke angka 3,4 persen dari sebelumnya 3,5 persen pada Juni. Sementara itu, inflasi inti tahunan AS diproyeksikan turun menjadi 2,5 persen dari 2,6 persen. Untuk indikator bulanan, harga konsumen diperkirakan naik 0,1 persen setelah sempat turun 0,4 persen pada Juni, dan inflasi inti bulanan diproyeksikan naik 0,2 persen setelah tidak mengalami perubahan pada bulan sebelumnya.
Di sisi lain, terdapat tantangan dari kebijakan MSCI August 2026 Index Review yang hasilnya akan berlaku efektif pada 1 September 2026. MSCI memutuskan untuk membekukan sejumlah perubahan indeks bagi saham-saham asal Indonesia. Kebijakan ini dipicu oleh kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham, ketepatan perhitungan saham publik (free float), serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi. Akibatnya, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes pada tinjauan bulan Agustus. Selain itu, tidak ada kenaikan kelas klasifikasi saham berdasarkan kapitalisasi pasar, termasuk perpindahan dari indeks Small Cap ke Standard. Meski demikian, MSCI tetap dapat mengeluarkan saham yang masuk dalam kerangka High Shareholding Concentration.
Strategi Pengembangan Logam Tanah Jarang oleh Danantara, BRIN, dan Perguruan Tinggi

Sebagai langkah perbaikan, MSCI telah mengakui upaya reformasi yang diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Salah satu rencana reformasi tersebut adalah meningkatkan ketentuan batas minimum free float menjadi 15 persen. Bulan November mendatang akan menjadi tenggat waktu yang penting bagi pasar saham Indonesia untuk menunjukkan implementasi reformasi yang konsisten. Apabila kemajuan dinilai belum memadai hingga tenggat tersebut, MSCI dapat mempertimbangkan opsi konsultasi untuk mereklasifikasi pasar Indonesia dari status Emerging Market menjadi Frontier Market.






