Presiden FIFA Gianni Infantino dipastikan tetap mempertahankan posisinya sebagai orang nomor satu di federasi sepak bola dunia tersebut. Kepastian ini diperoleh setelah Infantino mengamankan dukungan penuh dari jajaran eksekutif senior dalam pertemuan penting yang berlangsung di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8) waktu setempat. Langkah bertahan ini diambil Infantino meskipun dirinya secara resmi telah menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan terkait rencana kontroversial penjualan saham kompetisi kepada investor swasta melalui skema Fifa Forward Enterprise (FFE).
Skandal ini bermula ketika draf proposal FFE bocor ke publik pada akhir Juli lalu. Kebocoran informasi tersebut seketika memicu kemarahan global di kalangan pencinta dan pengurus sepak bola. Dalam draf tersebut, Infantino diketahui menawarkan dana segar sebesar US$40 juta atau setara dengan sekitar Rp640 miliar kepada setiap asosiasi anggota. Syaratnya, mereka harus memberikan lampu hijau bagi masuknya investasi swasta ke dalam turnamen-turnamen resmi FIFA, termasuk ajang bergengsi seperti Piala Dunia putra maupun putri, melalui anak perusahaan baru bernama FFE. Namun, rencana ambisius tersebut kini telah dibatalkan akibat gelombang penolakan yang begitu masif.
Guna meredam situasi yang kian memanas, Infantino langsung mengambil langkah taktis dengan memanggil para anggota dewan manajemen ke kantor FIFA Afrika. Pertemuan darurat ini digelar menyusul maraknya protes keras terhadap proposal FFE. Tak lama setelah itu, Infantino bersama Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, mengirimkan surat resmi yang mereka tanda tangani secara bersama-sama kepada para wakil presiden, dewan, serta 211 asosiasi anggota di seluruh dunia. Dalam surat tersebut, manajemen puncak FIFA menyampaikan permintaan maaf yang tulus dan mengakui adanya kekeliruan fatal dalam proses komunikasi proposal FFE. FIFA mengakui bahwa cara penyampaian rencana tersebut membuat jajaran dewan dan asosiasi anggota merasa dikucilkan dari proses pengambilan keputusan yang krusial.
Kendati permohonan maaf telah dilayangkan, gelombang ketidakpuasan dari belahan bumi Eropa tidak serta-merta mereda. Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) secara terbuka menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan pria berusia 56 tahun tersebut. UEFA bahkan tidak segan-segan melontarkan kritik tajam dengan menggambarkan proposal FFE sebagai sebuah kesepakatan ruang belakang yang kumuh dan sama sekali tidak transparan.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Kritikan pedas juga datang dari tokoh-tokoh besar sepak bola internasional. Legenda hidup lapangan hijau yang pernah membela Real Madrid dan Barcelona, Luis Figo, mendesak Infantino untuk segera menanggalkan jabatannya demi menjaga integritas sepak bola dunia. Di ranah politik, Perdana Menteri Kanada Mark Carney turut menyuarakan kekecewaannya dengan menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Infantino. Tekanan politik ini kian diperkuat dengan adanya laporan bahwa asosiasi sepak bola Wales dan Inggris mulai menarik dukungan mereka untuk pemilihan kembali Infantino sebagai presiden dalam kongres mendatang.
Meski demikian, posisi Infantino di tampuk kekuasaan tertinggi FIFA tampaknya masih cukup kokoh karena adanya pembelahan dukungan geografis. Di luar benua Eropa, pria asal Swiss ini masih menikmati basis dukungan yang sangat solid dari negara-negara di kawasan Asia dan Afrika. Negara-negara seperti Mesir, Maroko, Niger, Mauritania, Republik Demokratik Kongo, hingga Filipina secara konsisten tetap menyuarakan dukungan mereka bagi sang presiden.
Kesetiaan dari asosiasi-asosiasi di luar Eropa ini dinilai erat kaitannya dengan program Fifa Forward yang digagas di bawah kepemimpinan Infantino. Melalui program ini, setiap asosiasi anggota menerima kucuran dana rutin sebesar US$8 juta atau sekitar Rp128 miliar dalam setiap siklus tiga tahun. Bagi banyak negara berkembang, dana hibah ini sangat krusial untuk membiayai operasional dan pembangunan infrastruktur sepak bola lokal mereka.
Update Klasemen ACL Two 2026/27 & Jadwal Hari Ini 17 September, Persib Kuasai Grup E

Indonesia sendiri mengambil sikap yang sejalan dengan kelompok pendukung Infantino. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) secara resmi telah menyatakan dukungannya agar Gianni Infantino kembali menjabat sebagai Presiden FIFA. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyoroti bahwa dukungan yang diberikan Indonesia ini memiliki dampak yang sangat positif bagi keberlangsungan program transformasi sepak bola nasional yang saat ini sedang gencar dilakukan. Bagi PSSI, hubungan baik dengan kepemimpinan FIFA saat ini dipandang sebagai modal penting untuk mempercepat pembenahan tata kelola sepak bola di tanah air.
Dengan peta dukungan yang terbelah ini, masa depan tata kelola sepak bola dunia tampaknya akan diwarnai oleh ketegangan antara blok Eropa yang menuntut transparansi total dan blok Asia-Afrika yang cenderung mempertahankan status quo demi kelancaran program pendanaan. Meskipun Infantino berhasil selamat dari desakan mundur kali ini berkat sokongan dari Rabat, tantangan untuk memulihkan kepercayaan publik dan merangkul kembali asosiasi-asosiasi besar Eropa dipastikan akan menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat baginya.






