Sebuah fakta menarik mengenai rekam jejak kerja sama pembiayaan lingkungan di Indonesia terungkap saat filantropis asal Amerika Serikat (AS), George Soros, pernah mendatangi Zulkifli Hasan yang akrab disapa Zulhas. Pertemuan penting ini terjadi sewaktu Zulhas masih mengemban amanat sebagai Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Zulhas, yang pada saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan, membagikan secara langsung cerita di balik kedatangan tokoh filantropi internasional tersebut. Kunjungan George Soros ke kantor Zulhas kala itu berfokus pada pembahasan mengenai dukungan pendanaan untuk menopang program pengelolaan lingkungan hidup di tanah air.
Kedatangan George Soros ke kantor Zulhas tersebut didasari oleh posisi penting yang tengah diembannya di tingkat dunia. Saat mendatangi Zulhas, George Soros sedang bertugas dan menjabat sebagai Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pembiayaan perubahan iklim. Dengan kapasitas jabatan dari PBB tersebut, George Soros datang membawa dana sekitar US$ 50 juta. Dana dalam jumlah besar yang dibawa oleh George Soros ini ditujukan khusus untuk memberikan dukungan finansial pada pelaksanaan program pengelolaan lingkungan hidup.
Sebelum George Soros hadir dan menawarkan bantuan dana tersebut, skema pendanaan awal untuk program pengelolaan lingkungan tersebut sebenarnya sudah direncanakan dari sumber lain. Pendanaan awal tersebut semula akan berasal dari pemerintah Norwegia. Pemerintah Norwegia direncanakan menjadi penyokong dana utama untuk memulai proyek pengelolaan lingkungan di Indonesia. Namun, dalam perjalanannya, proses pencairan dana dari pemerintah Norwegia tersebut mengalami kendala besar yang disebabkan oleh adanya persyaratan yang dinilai rumit. Akibat kendala persyaratan rumit itu, proses pencairan dana dari Norwegia akhirnya tidak jadi dilakukan.
Sejarah Kepramukaan Indonesia dan Internasional serta Alur Perkembangannya

Mengetahui bahwa pendanaan awal dari pemerintah Norwegia tidak jadi dicairkan akibat kendala persyaratan yang rumit, George Soros kemudian mengambil keputusan untuk menalangi kebutuhan dana program lingkungan tersebut. George Soros melangkah langsung dengan datang ke kantor Zulhas dan menaruh dana sebesar US$ 50 juta. Uang senilai US$ 50 juta yang dibawa oleh Soros ini disediakan secara khusus sebagai dana talangan agar program pengelolaan lingkungan hidup yang telah direncanakan tetap dapat memiliki dukungan pendanaan.
Meskipun George Soros sudah datang langsung ke kantornya dan menaruh uang bernilai US$ 50 juta, Zulhas mengungkapkan fakta bahwa uang tersebut pada akhirnya tidak pernah digunakan. Zulhas menegaskan bahwa dana bantuan dari George Soros itu tidak pernah digunakan sama sekali hingga masa jabatannya sebagai Menteri Kehutanan berakhir. Zulhas menerangkan bahwa alasan utama di balik tidak digunakannya dana tersebut adalah karena adanya persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Persyaratan yang ditetapkan untuk penggunaan dana dari Soros itu, menurut Zulhas, terlalu rumit.
Keseruan Lomba 17-an di Terminal Kampung Rambutan Menyambut Kemerdekaan Indonesia

Pernyataan serta cerita mengenai rekam jejak kedatangan George Soros dan nasib dana bantuan US$ 50 juta tersebut disampaikan secara langsung oleh Zulhas pada hari Rabu kemarin. Zulhas membeberkan kisah ini sewaktu menghadiri acara Penandatanganan Perjanjian Penyaluran Dana Proyek RBP REDD+ Green Climate Fund (GCF) Output 2 untuk 10 Provinsi. Acara seremonial penandatanganan perjanjian pendanaan lingkungan tersebut bertempat di JB Tower, Jakarta.






