Peristiwa gempa bumi tektonik kembali mengguncang wilayah Jawa Barat pada Rabu (5/8) malam. Gempa berkekuatan magnitudo 5,2 tersebut berpusat di barat daya Kabupaten Pangandaran dan getarannya dilaporkan terasa hingga ke berbagai daerah lainnya, termasuk Kabupaten Bandung dan Sukabumi. Kejadian ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat setempat yang merasakan guncangan cukup jelas di tengah malam. Untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh dan berbasis data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berikut adalah rangkuman informasi lengkap mengenai peristiwa tersebut dalam bentuk tanya jawab.
Kapan dan di mana lokasi pusat gempa Pangandaran ini terjadi?
Berdasarkan laporan resmi dari BMKG, gempa bumi tektonik ini terjadi pada hari Rabu (5/8) malam, tepatnya pada pukul 21.55 WIB. Hasil analisis menunjukkan bahwa episenter atau pusat gempa terletak di wilayah laut, dengan jarak sekitar 87 kilometer di arah barat daya dari Kabupaten Pangandaran. Adapun kedalaman pusat gempa ini tercatat berada di 14 kilometer di bawah permukaan laut. Meskipun berpusat di kawasan perairan Pangandaran, rambatan gelombang gempa ini menjangkau wilayah daratan yang cukup luas di Jawa Barat.
Apa penyebab utama terjadinya gempa bumi ini dan bagaimana mekanismenya?
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, memberikan penjelasan mengenai karakteristik dari peristiwa tektonik ini. Menurut analisis instansi tersebut, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Pemicu utama dari guncangan ini adalah adanya aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut. Lebih lanjut, hasil analisis terhadap mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan geser naik atau yang dikenal secara ilmiah sebagai oblique-thrust fault. Karakteristik sesar aktif dan kedalamannya yang dangkal inilah yang membuat getaran gempa merambat dengan cepat dan dirasakan oleh warga di daratan.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Daerah mana saja yang merasakan getaran gempa dan bagaimana tingkat intensitasnya?
Guncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan di sejumlah wilayah di Jawa Barat dengan tingkat kekuatan atau skala intensitas yang bervariasi. BMKG membagi wilayah yang merasakan getaran ini ke dalam beberapa kategori Modified Mercalli Intensity (MMI). Getaran dengan skala intensitas III MMI dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, yang mencakup Kecamatan Kertasari, Baleendah, Dayeuhkolot, Majalaya, Arjasari, Nagrak, dan Solokanjeruk. Pada skala ini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah seakan-akan ada truk yang berlalu.
Bagaimana dengan wilayah lain yang juga merasakan getaran pada skala yang lebih rendah?
Selain wilayah-wilayah di atas, getaran dengan intensitas II-III MMI dilaporkan terasa di daerah Soreang, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Pangalengan, dan Ciwidey. Sementara itu, getaran dengan skala yang lebih lemah, yakni II MMI, dirasakan oleh warga di wilayah Sumedang, Parongpong, Cihanjuang, Ngamprah, Lembang, serta Pelabuhanratu. Pada skala II MMI, getaran umumnya dirasakan oleh beberapa orang yang sedang diam dan dapat membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Sebaran wilayah yang merasakan getaran ini menunjukkan bahwa meskipun pusat gempa berada jauh di laut selatan Pangandaran, efek rambatannya mencapai kawasan Bandung Barat dan sekitarnya.
Apakah gempa bumi magnitudo 5,2 ini berpotensi memicu bencana tsunami?
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat ketika terjadi gempa dengan pusat di laut adalah ancaman gelombang tsunami. Namun, masyarakat diimbau untuk tetap tenang karena BMKG segera melakukan pemodelan matematis terhadap dampak gempa tersebut. Hasil pemodelan yang dirilis oleh BMKG memastikan bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 di barat daya Pangandaran ini tidak memiliki potensi untuk memicu terjadinya bencana tsunami. Informasi ini penting untuk meredam kepanikan warga, terutama yang tinggal di sepanjang garis pantai selatan Jawa Barat.
Apakah ada aktivitas gempa susulan setelah guncangan utama tersebut?
Setelah guncangan utama yang terjadi pada pukul 21.55 WIB, BMKG terus melakukan pemantauan ketat terhadap aktivitas seismik di sekitar episenter. Hingga pukul 22.30 WIB pada malam yang sama, catatan dari BMKG menunjukkan telah terjadi satu kali gempa bumi susulan (aftershock). Gempa susulan tersebut terdeteksi memiliki kekuatan yang jauh lebih kecil dibandingkan gempa utama, yakni dengan magnitudo 2,2. Keberadaan gempa susulan dengan kekuatan yang terus menurun ini merupakan hal yang lumrah terjadi pascagempa bumi tektonik yang signifikan untuk melepaskan sisa energi di lempeng bumi.
Secara keseluruhan, koordinasi dan pemantauan cepat yang dilakukan oleh BMKG di bawah arahan Dr. Wijayanto membantu memberikan kepastian informasi kepada publik mengenai situasi di lapangan. Warga diimbau untuk selalu merujuk pada informasi resmi dari instansi berwenang dan tidak mudah mempercayai kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya terkait gempa susulan maupun potensi bencana ikutan lainnya.






