Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6 mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo dan dirasakan oleh warga di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat (4/9/2026) pukul 05.00 WITA. Guncangan dangkal tersebut memicu terjadinya longsor yang memutus akses jalan di Pulau Palue.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berlokasi di laut sekitar 48 kilometer timur laut Nagekeo pada koordinat 8,33掳 LS dan 121,58掳 BT. Gempa berkedalaman 7 kilometer ini dipicu oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back-Arc Thrust) dengan mekanisme pergerakan naik (thrust). Hasil pemodelan BMKG memastikan peristiwa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Getaran gempa dirasakan dengan skala intensitas III MMI di Nagekeo dan skala II MMI di Sikka. BMKG mencatat lindu ini merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa utama M7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026 lalu. Hingga Jumat (4/9/2026) pukul 04.30 WIB, total aktivitas gempa susulan telah mencapai 12.051 kali, dengan magnitudo terbesar tercatat M6,2.
Guncangan pada Jumat pagi memicu tanah longsor di ruas jalan yang menghubungkan Desa Rokirole dan Desa Nitung Lea di Pulau Palue. Timbunan tanah dan bebatuan menutup seluruh badan jalan sehingga kendaraan bermotor sama sekali tidak dapat melintas.
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Salah seorang warga Palue, Nestor Langga, mengungkapkan bahwa pembersihan material longsor membutuhkan bantuan alat berat ekskavator. Sumbatan jalan ini menghentikan mobilitas warga setempat serta menghambat distribusi bantuan bagi para pengungsi yang berada di Desa Nitung Lea.






