Proses pemulihan wilayah terdampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan memerlukan anggaran mencapai Rp2,59 triliun. Bencana tersebut menimbulkan dampak luas di berbagai daerah, menelan ratusan korban jiwa, serta merusak puluhan ribu bangunan dan fasilitas publik.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT per 3 September 2026, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 129 orang. Selain korban jiwa, lebih dari 1.210 orang mengalami luka-luka dan sekitar 87 ribu warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kerusakan fisik mencakup 99.398 rumah warga serta 3.886 prasarana strategis, yang terdiri atas 653 fasilitas kesehatan, 2.633 fasilitas pendidikan, dan 600 sarana ibadah. Dampak pada sektor pendidikan juga menyebabkan sebanyak 1.221 sekolah di NTT sempat menghentikan kegiatan belajar mengajar.
Kebakaran Landa Kawasan Merapi Ungup-Ungup Gunung Ijen, Banyuwangi

Untuk memetakan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) NTT bersama BPBD NTT dan Program Kemitraan Australia-Indonesia SIAP SIAGA mulai mengonsolidasikan data kerusakan sektoral serta kewilayahan. Proses pendataan mengintegrasikan basis data geospasial (GIS) dan pemanfaatan drone dengan dukungan jejaring kemanusiaan dan akademik, termasuk Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT), Perkumpulan OpenStreetMap Indonesia (POI), Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), dan Pusat Studi Bencana UGM.
Penilaian kerusakan dilakukan mengacu pada prinsip Build Back Better, Safer and Sustainable (B3S2) guna memastikan akurasi klasifikasi kerusakan. Ketepatan data ini menjadi dasar penyaluran bantuan stimulan dari pemerintah pusat dengan skema Rp15 juta untuk kategori Rusak Ringan, Rp30 juta untuk Rusak Sedang, dan Rp70 juta untuk Rusak Berat.
Api Kebakaran Sampah Pisangan Tangsel Masih Berkobar, Asap Mengepul

Sementara itu, pemulihan akses transportasi darat menunjukkan perkembangan positif setelah konektivitas jalan nasional Trans-Flores dipastikan kembali fungsional 100 persen sejak H+2 pascagempa melalui pengerahan alat berat. Kendati demikian, sejumlah kendala infrastruktur masih dihadapi di titik lain, seperti Pelabuhan Marapokot di Kabupaten Nagekeo yang mengalami kerusakan berat hingga sempat menghentikan operasional penyeberangan perintis, serta persoalan air payau yang terkontaminasi di Pulau Palue.






