Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan akhir pekan dengan pergerakan positif. Berdasarkan data Refinitiv pada pembukaan perdagangan Jumat (4/9/2026), mata uang Garuda mencatat apresiasi sebesar 0,23 persen ke posisi Rp17.610 per dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan pagi ini melanjutkan momentum positif dari hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Kamis (3/9/2026), rupiah sempat melonjak 0,54 persen ke level Rp17.655 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi level penutupan terkuat mata uang Indonesia sejak 21 Mei 2026 atau dalam kurun waktu sekitar 15 pekan terakhir.
Di pasar global, pergerakan mata uang dipengaruhi oleh dinamika indeks dolar AS (DXY). Pada pukul 09.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia ini terpantau menguat tipis 0,07 persen ke level 98,981. Kenaikan terbatas tersebut terjadi setelah DXY anjlok tajam 0,69 persen pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Rekomendasi Saham Hari Ini, ASII, AMMN, hingga RATU

Sentimen terhadap dolar AS meredup setelah Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller membuka peluang untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini, asalkan data ekonomi terbaru memperlihatkan tekanan inflasi yang kian mereda. Menyusul pandangan Waller tersebut, probabilitas pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September merosot menjadi 48 persen dari posisi sebelumnya di 59 persen.
Kondisi ketenagakerjaan di AS turut menjadi perhatian pelaku pasar. Data klaim tunjangan pengangguran AS yang dirilis pada Kamis menunjukkan kenaikan tipis pada pekan lalu. Selain itu, konsensus ekonom memproyeksikan penambahan 56.000 lapangan kerja baru untuk Agustus, membalikkan kontraksi pada Juli ketika AS secara mengejutkan kehilangan 23.000 pekerjaan.
IHSG Lanjut Menguat, Dibuka Naik 0,44%

Di kawasan Asia, penguatan nilai tukar juga didorong oleh pergerakan mata uang yen Jepang yang melesat lebih dari 2 persen hingga menyentuh 155,47 yen per dolar AS. Penguatan tajam ini dipicu oleh pernyataan anggota Dewan Kebijakan Bank of Japan (BOJ) Hajime Takata yang menegaskan perlunya percepatan kenaikan suku bunga demi menghadapi tekanan inflasi. Saat ini, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin pada September telah mencapai 75 persen.






