Kawasan Cikini yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi dan sejarah di Jakarta Pusat mendadak gempar akibat kepulan asap tebal pada Rabu sore, 5 Agustus 2026. Peristiwa kebakaran dilaporkan melanda sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat di wilayah tersebut, tepatnya berada di Jalan Cikini Raya Nomor 91, Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Objek yang mengalami kebakaran diidentifikasi sebagai sebuah bangunan setinggi lima lantai yang saat ini masih dalam tahap konstruksi. Gedung tersebut diketahui merupakan milik dari PT Optik Tunggal Sempurna. Kejadian yang berlangsung di tengah aktivitas sore hari ini langsung menarik perhatian besar dari warga sekitar serta para pengendara yang sedang melintasi jalur sibuk di kawasan Menteng tersebut.
Kronologi penanganan kebakaran ini bermula dari laporan cepat warga yang menyadari adanya kobaran api di lantai gedung. Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat menerima laporan darurat pertama mengenai insiden ini pada pukul 14.45 WIB. Laporan krusial tersebut disampaikan oleh seorang warga bernama Ibu Ira. Begitu menerima informasi darurat, petugas pemadam kebakaran langsung bergerak cepat guna mengantisipasi penyebaran api yang lebih luas di kawasan padat tersebut. Armada pemadam kebakaran dijadwalkan mulai meluncur dari pos terdekat pada pukul 14.49 WIB. Berkat respons taktis di jalan raya, petugas berhasil tiba di lokasi kejadian hanya dalam waktu tiga menit setelah keberangkatan, yakni pada pukul 14.52 WIB, dan segera memulai operasi pemadaman.
Sebagai langkah penanganan awal di lokasi kebakaran Jalan Cikini Raya, petugas mengerahkan sebanyak empat unit mobil pemadam kebakaran yang berasal dari Sektor Taman Ismail Marzuki. Namun, setelah melakukan asesmen awal terhadap struktur bangunan lima lantai yang sedang dibangun tersebut, petugas menyadari bahwa potensi penyebaran api cukup tinggi. Untuk mempercepat proses pemadaman dan mengamankan area sekitar, jumlah bantuan armada terus ditingkatkan secara bertahap. Hingga operasi pemadaman berjalan penuh, total armada yang dikerahkan ke lokasi kejadian mencapai 20 unit mobil pemadam kebakaran. Pengerahan puluhan unit pemadam ini ditujukan untuk mempermudah akses pasokan air serta memastikan seluruh lantai gedung yang terdampak dapat dijangkau oleh petugas.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Kondisi lalu lintas di sekitar Jalan Cikini Raya yang biasanya padat pada sore hari menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi pergerakan armada pemadam kebakaran. Kawasan Menteng, khususnya Kelurahan Cikini, merupakan area vital di Jakarta Pusat yang dikelilingi oleh fasilitas publik dan pemukiman yang cukup padat. Oleh sebab itu, kecepatan kedatangan petugas dari Sektor Taman Ismail Marzuki yang hanya memakan waktu tiga menit menjadi faktor kunci dalam mencegah bencana yang lebih besar. Dengan pengerahan hingga 20 unit pemadam, petugas harus membagi peran untuk mengamankan perimeter luar gedung agar aktivitas warga sekitar tidak terganggu dan proses pemadaman di dalam struktur bangunan lima lantai tersebut dapat berjalan tanpa hambatan teknis.
Berkat koordinasi yang intensif antara petugas di lapangan, upaya melokalisasi kobaran api mulai menunjukkan hasil yang signifikan dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Sekitar pukul 15.30 WIB, petugas pemadam kebakaran berhasil melokalisasi api sehingga tidak merambat ke bangunan di kanan dan kirinya. Setelah api berhasil dikendalikan, petugas langsung melanjutkan tindakan ke tahap pendinginan yang dimulai pada pukul 15.52 WIB. Tahap pendinginan ini merupakan prosedur wajib untuk menurunkan suhu material bangunan dan memastikan tidak ada bara api tersembunyi yang berpotensi menyala kembali. Berdasarkan pantauan langsung di lokasi kejadian hingga pukul 17.00 WIB, kobaran api telah dinyatakan padam sepenuhnya, meskipun petugas pemadam kebakaran masih tetap melanjutkan proses pendinginan di beberapa titik gedung.
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Mengenai penyebab awal dari peristiwa ini, dugaan sementara yang berkembang di lapangan mengarah pada faktor aktivitas pekerjaan konstruksi di dalam bangunan. Kebakaran diduga kuat dipicu oleh adanya percikan api yang berasal dari aktivitas pengelasan di salah satu bagian gedung. Pada proyek pembangunan gedung bertingkat seperti milik PT Optik Tunggal Sempurna ini, keberadaan material konstruksi yang rentan terbakar kerap kali mempercepat eskalasi api ketika terkena percikan panas dari alat las. Meskipun demikian, penyelidikan resmi dari pihak berwenang masih diperlukan untuk memastikan penyebab pasti kebakaran serta menghitung kerugian materiil yang dialami oleh pemilik gedung akibat insiden di kawasan Cikini ini.






