Penerapan sistem tanam modern Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) diklaim mampu mendongkrak pendapatan petani hingga sekitar Rp35 juta per hektare. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan metode intensifikasi berbasis teknologi ini diterapkan pada sedikitnya 1 juta hektare lahan secara nasional pada 2027.
Peningkatan penghasilan tersebut didorong oleh lonjakan produktivitas panen. Berdasarkan hasil uji coba yang telah berjalan selama dua tahun di 10 hingga 11 provinsi, produktivitas padi yang sebelumnya berkisar 5 hingga 5,5 ton per hektare melesat menjadi 11 hingga 13 ton per hektare, atau rata-rata mencatatkan kenaikan sekitar 5 ton per hektare.
Amran mengalkulasi, jika lonjakan rata-rata 5 ton per hektare tersebut diaplikasikan pada target awal 1 juta hektare, pasokan gabah nasional akan bertambah sekitar 5 juta ton. Potensi nilainya kian besar apabila jangkauan lahan diperluas.
Pertamina NRE Sukses Terangi Pulau Sembur 24 Jam, Siap Sasar Desa Lain

"Kalau 2 juta (ha) berarti 10 juta ton," ujar Amran. Dengan asumsi harga gabah di tingkat petani sekitar Rp6.500 per kilogram, total nilai produksi dari tambahan 10 juta ton tersebut dapat menyentuh angka sekitar Rp65 triliun.
Kerapatan Rumpun dan Efisiensi Pembibitan
Metode PM-AAS dikembangkan oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) dengan memadukan mekanisasi, pengelolaan air, pemupukan terukur, pengendalian hama dan gulma, serta penggunaan varietas unggul seperti Inpari 32.
Perbedaan mencolok dibanding metode konvensional terletak pada pola tanam rapat dan sistem tanam benih langsung (direct seeding). Melalui pola tanam rapat, populasi tanaman yang mulanya hanya berkisar 360 ribu rumpun per hektare ditingkatkan secara signifikan menjadi 800 ribu hingga 1 juta rumpun per hektare.
Kata-kata Destry Damayanti usai Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia

Dari sisi pembiayaan, sistem ini memang membutuhkan tambahan modal produksi sekitar Rp2 juta per hektare untuk mencukupi kebutuhan benih dan pupuk. Namun, penerapan direct seeding memangkas biaya operasional persemaian sekaligus menghemat waktu pengerjaan di lapangan, sehingga target pertanaman hingga tiga kali setahun menjadi lebih realistis untuk dicapai.
Untuk mempercepat adopsi teknologi ini di kalangan petani, pemerintah berencana menyiapkan skema subsidi benih guna mendukung target implementasi pada luasan 1 juta hektare.






