Peningkatan aktivitas vulkanik terjadi di kawasan perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Gunung Semeru kembali meletus pada Minggu, 4 Desember 2022, dengan mengeluarkan gumpalan awan raksasa dari kawah aktifnya. Peristiwa ini memaksa ribuan warga di sekitar lereng gunung untuk segera mengungsi demi menghindari ancaman bahaya material vulkanik.
Merespons eskalasi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) resmi menaikkan status aktivitas Gunung Semeru dari Level 3 (Siaga) menjadi Level 4 (Awas) terhitung mulai Minggu, 4 Desember 2022 pukul 12.00 WIB. Peningkatan status ini menjadi dasar penerapan langkah mitigasi terpadu di kawasan terdampak.
Dinamika Vulkanik dan Karakteristik Erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur
Pakar vulkanologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Nana Sulaksana menyampaikan bahwa rangkaian erupsi gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut sebenarnya sudah terdeteksi mulai pukul 03.00 WIB pada Minggu, 4 Desember 2022.
Berdasarkan hasil pengamatan kegempaan selama rentang waktu enam jam pada Senin, 5 Desember 2022 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, Gunung Semeru tercatat mengalami 29 kali letusan atau erupsi. Aktivitas kegempaan ini memiliki amplitudo antara 11 hingga 22 mm dengan durasi gempa berkisar 65 hingga 120 detik.
Ahli vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman menjelaskan bahwa erupsi pada Desember 2022 memiliki perbedaan mendasar dengan letusan pada tahun sebelumnya. Letusan Semeru terdahulu dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa curah hujan, sedangkan letusan kali ini dipicu oleh faktor internal, yakni adanya pergerakan magma dari dalam perut gunung. Karakteristik abu vulkanik Semeru juga memiliki bobot yang relatif lebih berat menyerupai abu Gunung Bromo, sehingga material abunya tidak melayang terlalu jauh dan jatuh dalam radius beberapa kilometer di sekitar gunung.
Hotspot Karhutla Kalsel Naik, Pasukan Darat dan Water Bombing Ditambah

Dosen geologi ITB I Gusti Bagus Eddy Sucipta turut memaparkan bahwa fenomena luncuran awan panas guguran (APG) pada erupsi Semeru terbentuk akibat aliran lava yang telah menumpuk sejak satu tahun sebelumnya pada lidah lava, yang kemudian longsor dan membentuk guguran awan panas.
Sebaran Titik Pengungsian dan Layanan Medis di Kabupaten Lumajang
Dampak erupsi memicu evakuasi massal masyarakat yang tinggal di zona rawan bencana. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Gatot Soebroto mencatat sebanyak 2.219 jiwa mengungsi akibat erupsi Semeru, yang tersebar di 12 titik tempat penampungan pengungsi. Titik konsentrasi pengungsi terbanyak berada di Kantor Kecamatan Candipuro dengan jumlah mencapai 600 orang.
Untuk mengantisipasi kebutuhan pelayanan medis darurat bagi warga yang terdampak, disiapkan fasilitas perawatan rujukan sementara di sejumlah pusat kesehatan masyarakat, meliputi Puskesmas Pasirian, Puskesmas Tempeh, Puskesmas Penanggal, dan Puskesmas Candipuro.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengimbau seluruh masyarakat di sekitar wilayah Gunung Semeru, khususnya di Kabupaten Lumajang, untuk segera menyelamatkan diri dan menempati posko atau titik-titik evakuasi terdekat yang telah disediakan oleh pihak berwenang.
Update Penanganan Gempa NTT, 87 Korban Jiwa, 150.576 Warga Mengungsi, dan Pengerahan Bantuan Skala Penuh

Zona Larangan Aktivitas dan Mitigasi Bahaya di Sepanjang Besuk Kobokan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan sejumlah instruksi keselamatan penting guna mengantisipasi ancaman material vulkanik primer maupun sekunder. Masyarakat diminta mematuhi batas-batas zona bahaya yang telah ditetapkan:
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak atau pusat erupsi Semeru.
BNPB meminta masyarakat tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena area tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas guguran dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Masyarakat diinstruksikan untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena tingginya potensi bahaya lontaran batu pijar.






