Keseimbangan antara pasokan dan permintaan valuta asing, khususnya dolar Amerika Serikat, menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pemahaman tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta saat memberikan edukasi kepada masyarakat dalam ajang Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026).
Dalam penjelasannya, Filianingsih menerangkan bahwa pergerakan kurs rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika ketersediaan dan kebutuhan valas di pasar domestik. Ketika pasokan dolar AS di dalam negeri meningkat sementara permintaan tetap relatif rendah, nilai tukar rupiah berpotensi menguat. Sebaliknya, jika permintaan dolar melonjak di tengah pasokan yang terbatas, harga dolar AS akan terkerek naik dan memberi tekanan terhadap rupiah.
Ia mencontohkan, pergerakan kurs yang turun dari level Rp17.000 menjadi Rp15.000 per US$1 merupakan indikasi penguatan rupiah. Dalam kondisi tersebut, jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk membeli satu dolar AS menjadi lebih sedikit.
CT Turun Gunung Bagi-bagi Tips Rahasia Sukses ke Warga Lampung

Adapun pasokan valas ke Indonesia utamanya bersumber dari aktivitas ekspor yang menghasilkan devisa serta masuknya investasi asing, baik lewat kepemilikan surat berharga maupun penanaman modal secara langsung. Sementara itu, faktor pendorong permintaan valas berasal dari aktivitas impor yang memerlukan pembayaran menggunakan mata uang asing, serta arus modal keluar (outflow) ketika investor asing melepas aset di Indonesia dan merepatriasi dananya ke luar negeri.
Secara menyeluruh, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh tiga pilar utama, yakni faktor fundamental, struktural, dan sentimen. Faktor fundamental berkaitan erat dengan kondisi neraca transaksi berjalan serta neraca perdagangan nasional. Faktor struktural menyangkut keseimbangan pasokan dan permintaan valas dari para pelaku pasar domestik maupun asing.
Pertamina Kenalkan Bahan Bakar SAF Berbasis Minyak Jelantah di IdeaFest 2026

Sementara itu, faktor sentimen sangat dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk perubahan harga komoditas dan tensi geopolitik. Filianingsih mencontohkan konflik di kawasan Timur Tengah yang kerap memicu kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya dapat mendorong peningkatan permintaan dan harga dolar AS di pasar global.






