Mendapatkan pasokan air bersih di kawasan yang belum terjangkau saluran pipa air minum dari PDAM tentu membutuhkan cara yang mandiri. Di Dusun Kalidadap I, Selopamioro, Imogiri, Bantul, warga secara rutin menanti pasokan air dari sumber mata air alami yang dikenal dengan nama Sendang Wonosari. Di kawasan yang belum terjangkau saluran PDAM ini, sumber mata air tersebut menjadi salah satu tumpuan utama kehidupan sehari-hari. Tanpa menggunakan bantuan mesin ataupun pompa air listrik, warga setempat berhasil mengalirkan air dari pegunungan langsung menuju ke rumah masing-masing. Mereka hanya memanfaatkan hukum alam dasar, yaitu gaya gravitasi, untuk memastikan kebutuhan air tetap terpenuhi.
Langkah pertama dalam sistem pengaliran air ini adalah membentangkan selang dari sumber mata air menuju area permukiman. Saat ini, sedikitnya terdapat sekitar 80 selang yang menghubungkan sumber mata air Sendang Wonosari dengan rumah-rumah warga di sekitarnya. Panjang selang ini sangat bervariasi karena disesuaikan dengan jarak tempuh rumah dari mata air tersebut. Sebagai contoh, Teguh, seorang warga Kalidadap I yang berusia 27 tahun, memiliki instalasi selang yang terdiri dari 12 gulung. Setiap gulung selang milik Teguh memiliki panjang 50 meter, sehingga total panjang selangnya mencapai sekitar 600 meter. Sementara itu, warga lainnya yaitu Sagi yang berusia 72 tahun dari Dusun Kalidadap I, tercatat memiliki enam gulung selang untuk menyalurkan air ke tempat tinggalnya.
Dalam praktiknya, menyambungkan selang yang sangat panjang tidak serta-merta membuat air langsung mengalir dengan lancar. Ada tahapan teknis yang harus dilakukan oleh warga agar aliran air tidak terhambat. Warga harus melepas setiap sambungan selang terlebih dahulu untuk membiarkan udara yang terjebak di dalamnya keluar. Udara yang terperangkap di dalam ruang selang dapat menghambat laju air, sehingga pelepasan sambungan ini menjadi langkah krusial. Setelah udara di dalam selang berhasil keluar, barulah air bisa melaju lebih cepat melewati saluran tersebut.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Setelah masalah udara yang terperangkap teratasi, langkah selanjutnya adalah memicu aliran air itu sendiri. Mengingat air dari Sendang Wonosari mengalir ke rumah warga tanpa bantuan mesin ataupun pompa, dibutuhkan dorongan awal secara manual. Warga cukup menyedot ujung selang menggunakan mulut mereka sendiri. Sedotan ini dilakukan hingga air terdorong masuk ke dalam pipa plastik tersebut. Setelah air berhasil melewati titik awal, gaya gravitasi akan mengambil alih pekerjaan sepenuhnya dan menarik air mengalir turun menuju rumah-rumah warga di dataran yang lebih rendah. Metode menyedot air menggunakan selang ini telah diterapkan sejak lama, bahkan Sagi menyatakan bahwa ia sudah menggunakan cara tersebut sejak tahun 1977.
Selain pengaturan teknis pada selang, warga juga harus memperhatikan jadwal pengambilan air agar pasokan tetap terdistribusi dengan baik. Warga memiliki kebiasaan untuk berkumpul di sumber mata air setiap harinya secara terjadwal. Rutinitas berkumpul di sekitar Sendang Wonosari tersebut berlangsung setiap hari pada pukul 06.00, 08.00, dan 14.00 WIB. Waktu-waktu yang sudah ditentukan ini dimanfaatkan oleh warga sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Hal ini dikarenakan setelah waktu berkumpul tersebut berlalu, sebagian air dari sumber mata air akan dialihkan untuk mengairi lahan pertanian yang berada di lereng bawah.
Menguak Misteri Keberadaan Nusron Usai KPK OTT Kasus HGB Summarecon

Meskipun metode pengaliran dengan selang sangat membantu, tidak semua warga bergantung pada Sendang Wonosari. Suroso (31), yang menjabat sebagai Kepala Dusun Kalidadap II, menyebutkan bahwa terdapat sekitar 330 kepala keluarga (KK) di wilayahnya. Jumlah yang kurang lebih sama juga terdapat di wilayah Kalidadap I. Bagi sebagian warga yang tidak menggunakan air dari sumber mata air Sendang Wonosari, mereka biasanya memanfaatkan sumur dangkal. Kedalaman sumur dangkal yang dibuat oleh para warga tersebut bervariasi, yakni berkisar antara 8 hingga 10 meter.
Kebutuhan akan akses air bersih yang lebih modern sebenarnya pernah diupayakan di kawasan tersebut. Sebelumnya, warga pernah memiliki sumur bor yang berlokasi di Kalidadap II. Akan tetapi, fasilitas tersebut kini sudah tidak lagi berfungsi. Kerusakan pompa sumur bor tersebut disebabkan oleh pengguna yang terlalu banyak, sehingga rentan mengalami kerusakan. Tingginya biaya dan frekuensi perbaikan akhirnya membuat dana pengelolaan habis, dan fasilitas itu kini tidak bisa dipakai. Menyikapi situasi ini, Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemda DIY. Koordinasi ini dilakukan untuk membahas potensi pembangunan sumur bor baru maupun pengadaan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Kalidadap.






