Bagaimana cara pelajar sekolah menengah di Indonesia menembus ketatnya persaingan inovasi digital tingkat dunia dan membawa pulang piala kemenangan? Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan pendidik, orang tua, dan siswa yang ingin menorehkan prestasi di kancah global. Langkah konkret untuk mencapainya dapat dipelajari dari keberhasilan tim perwakilan Indonesia yang berhasil memenangkan kompetisi teknologi bergengsi di Seoul, Korea Selatan. Prestasi ini membuktikan bahwa inovasi lokal mampu bersaing secara global jika dipersiapkan dengan strategi yang tepat.
Melalui ajang 16th e-ICON World Contest yang diselenggarakan di bawah naungan Kementerian Pendidikan Korea Selatan, dua siswa kelas 12 EcoSocioTech School (EST) TB Simatupang (sebelumnya dikenal sebagai Sekolah HighScope Indonesia), Ravakatya Anadra (Andra) dan Nicholas Emmanuel (Nicho), membuktikan bahwa kolaborasi dan inovasi teknologi adalah kunci utama. Sekolah mereka sendiri bertransformasi menjadi EcoSocioTech (EST) School melalui ajang EST Fun Walk & Run 2026. Berikut adalah tahapan penting yang dapat diikuti oleh para pelajar lain untuk meraih kesuksesan serupa dalam kompetisi teknologi internasional.
Langkah pertama adalah menyelaraskan ide proyek dengan isu-isu global yang mendesak, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs). Kompetisi internasional seperti e-ICON World Contest menuntut peserta untuk menciptakan solusi berbasis teknologi guna mengatasi masalah sosial nyata di masyarakat. Dalam hal ini, tim bentukan Andra dan Nicho memilih fokus pada SDG 3, yaitu Good Health and Well-Being. Mereka merancang aplikasi bernama Hugrow, yang dirancang khusus untuk membantu keluarga membangun komunikasi yang lebih baik, menumbuhkan kebiasaan positif, serta menciptakan hubungan keluarga yang jauh lebih sehat.
Daftar Enam Karateka Indonesia untuk Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya

Langkah kedua adalah membangun kolaborasi lintas batas negara secara efektif. Kompetisi tingkat dunia saat ini sering kali menguji kemampuan peserta untuk bekerja sama dalam tim multinasional. Andra dan Nicho tidak bekerja sendiri, melainkan berkolaborasi secara aktif dengan dua pelajar asal Korea Selatan, yakni Kim Siwoo dan Kim Mirae. Kerja sama ini menuntut komunikasi yang intensif, pembagian peran yang adil, serta penyatuan perspektif dari latar belakang budaya yang berbeda untuk menyempurnakan fitur-fitur di dalam aplikasi Hugrow.
Langkah ketiga adalah memanfaatkan bimbingan dari mentor yang berpengalaman secara maksimal. Peran guru pendamping sangat krusial dalam mengarahkan pengembangan teknis maupun penyusunan konsep aplikasi agar sesuai dengan standar penilaian. Dalam tim Hugrow, Dermawan Intiardy bertindak sebagai guru pendamping yang memandu para siswa melewati berbagai tantangan teknis dan non-teknis sepanjang persiapan hingga puncak kompetisi di Seoul. Bimbingan ini membantu tim tetap fokus pada solusi yang realistis dan aplikatif.
Jorge Martin Fokus Kemenangan dan Pengembangan Motor Aprilia di MotoGP 2026

Langkah keempat adalah mempersiapkan diri menghadapi evaluasi ketat dari panel juri profesional. Pengembang aplikasi harus mampu mempresentasikan solusi mereka secara meyakinkan dan menjawab pertanyaan kritis dari para ahli industri. Pada ajang ini, kualitas aplikasi Hugrow diuji langsung oleh panel juri terkemuka, termasuk Prof. Soonsik Suh dari Chuncheon National University of Education, Kihyun Park selaku CEO Tekville Education Co., Ltd., serta Youjin Hwang yang merupakan Senior Professional di Samsung Electronics.
Lewat kombinasi ide sosial yang kuat, kolaborasi internasional yang solid, bimbingan mentor, dan ketangguhan presentasi di hadapan juri kelas dunia, tim Hugrow berhasil meraih Juara 1 dalam ajang tersebut. Kemenangan ini membuktikan bahwa dengan persiapan yang matang dan pemanfaatan teknologi yang tepat sasaran, pelajar Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin di panggung inovasi digital global.






