Deretan papan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia sering kali membuat investor pemula tergoda untuk langsung membeli emiten dengan nominal terjangkau. Namun, harga per lembar yang murah belum tentu mencerminkan nilai perusahaan yang sebenarnya. Dalam sesi diskusi Mindfull Spending pada acara #TENTHACLES: Mozaik 10 Tahun Tirto.id di Kopikina, Kemang, edukator keuangan Kayleen M menegaskan bahwa investor tidak boleh berhenti hanya pada nominal harga saham. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami model bisnis perusahaan dan menyelaraskannya dengan capaian kinerja keuangan.
Alasan utama perlunya pencermatan mendalam ini bersumber dari banyaknya pilihan di lantai bursa yang kini menampung hampir 1.000 emiten terdaftar. Menyeleksi perusahaan satu per satu bisa menjadi tantangan besar, sehingga investor disarankan memulai dari bisnis yang dekat dengan aktivitas harian. Contohnya seperti minimarket Alfamart, bank digital Bank Jago, atau penyedia transportasi publik dan ekosistem digital seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Sosiopreneur dan pegiat investasi Fajar Widi mengingatkan bahwa investor sejatinya membeli unit bisnis yang sedang berjalan, bukan sekadar instrumen lembaran saham. Membeli saham semata-mata karena harganya berada di level rendah tanpa penopang bisnis yang kuat berisiko menjebak investor pada aset berkinerja buruk.
Jembatan ke-2.500 TNI AD Selesai Dibangun Korem 051/Wijayakarta di Cibarusah Bekasi

Dampak dari analisis fundamental tersebut membantu investor mengenali saham undervalued atau saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Saham GOTO misalnya, dinilai sejumlah analis mulai tergolong undervalued seiring perbaikan fundamental dan efisiensi operasional yang membuahkan laba dua kuartal berturut-turut. Pada Kuartal II-2026, GoTo mencatatkan laba bersih sebesar Rp252 miliar, melonjak 47,4 persen dari kuartal sebelumnya yang bernilai Rp171 miliar. Pendapatan bersihnya menembus Rp5,7 triliun atau naik 31 persen secara tahunan, ditopang GTV inti yang melesat 83 persen ke angka Rp164 triliun. Basis pengguna bertransaksi tahunan GoTo juga tumbuh 19 persen menjadi 71 juta, sementara EBITDA Grup yang disesuaikan melesat 137 persen secara tahunan hingga melampaui Rp1 triliun untuk pertama kalinya. Selain di sektor teknologi melalui layanan Gojek dan GoPay, peluang valuasi terdiskon juga dijumpai pada sektor komoditas batu bara, seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Bagi investor yang ingin mulai memilah saham terdiskon, langkah taktis pertama yang harus diambil adalah memetakan produk atau layanan yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman langsung atas operasional harian perusahaan mempermudah proses penilaian awal sebelum beralih ke laporan keuangan. Langkah berikutnya, teliti tren pendapatan, efisiensi operasional, dan konsistensi perolehan laba bersih secara berkala untuk memastikan perbaikan fundamental bersifat nyata. Investor juga perlu membandingkan valuasi emiten dengan para pesaing di sektor yang sama, seperti pada emiten batu bara PTBA, ITMG, dan ADRO.
Cara Menganalisis Data Backlog Perumahan Berdasarkan Laporan BPS 2026

Meskipun penilaian instrumen terdiskon berpatokan pada data keuangan resmi, setiap analisis saham tetap memiliki batas ketidakpastian. Kinerja historis suatu emiten tidak secara otomatis menjamin tren pertumbuhan berlanjut di kuartal berikutnya karena dinamika pasar terus berubah. Investor perlu menyadari keterbatasan indikator finansial tunggal dan tetap mengombinasikan pencermatan model bisnis, efisiensi operasional, serta toleransi risiko pribadi sebelum mengambil keputusan investasi.






