Perubahan struktur pendanaan di sektor perbankan merupakan sinyal penting yang wajib dicermati oleh nasabah maupun investor. Fenomena ini baru saja dialami oleh PT Bank Permata Tbk (BNLI) pada periode semester I-2026. Ketika porsi dana murah atau current account saving account (CASA) menyusut dan beralih ke simpanan deposito yang menawarkan bunga lebih tinggi, perbankan akan menghadapi tantangan berupa potensi kenaikan biaya dana (cost of fund). Bagi Anda yang ingin memahami bagaimana kondisi ini memengaruhi kinerja keuangan bank, terdapat beberapa langkah analisis yang dapat diterapkan dengan menjadikan laporan keuangan Bank Permata sebagai studi kasus.
Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah melacak rincian pergeseran saldo pada instrumen dana murah dan dana mahal. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, saldo giro Bank Permata tercatat turun 12,2% sepanjang tahun berjalan (year-to-date atau ytd) menjadi Rp64,74 triliun dari sebelumnya Rp73,71 triliun pada akhir 2025. Penurunan serupa juga terjadi pada instrumen tabungan yang menyusut sebesar 9,4% ytd menjadi Rp44,77 triliun dari Rp49,40 triliun. Secara total, dana murah bank tersebut berkurang sekitar Rp13,6 triliun dalam enam bulan pertama tahun ini. Sebaliknya, simpanan dalam bentuk deposito berjangka justru meningkat tajam 14,3% ytd menjadi Rp79,65 triliun dari Rp69,67 triliun, yang berarti bertambah hampir Rp10 triliun. Melalui pemantauan angka-angka ini, Anda bisa melihat secara jelas bagaimana nasabah cenderung memindahkan uang mereka ke instrumen dengan imbal hasil yang lebih menguntungkan.








